Jumat, 28 Februari 2025

Naskah Monolog KYAI MAKMUR (Bupati Pemalang Era Kemerdekaan)

  

KYAI MAKMUR

(Bupati Pemalang era kemerdekaan)

PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA PERANG, BEBERAPA BAMBU RUNCING TAMPAK BERDIRI. LAMPU MENYOROT PADA SEORANG AKTOR DIATAS PANGGUNG.  MUSIK PEMBUKA.

Selamat datang para hadirin sekalian yang berbahagia. Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang seorang Kyai yang juga menjadi bupati di Pemalang ke tiga pada era kemerdekaan. Namun sebelum itu, hohon para hadirin sekalian untuk menonaktifkan hpnya untuk sementara atau paling tidak silence dulu ya. Agar pertunjukan kali ini berjalan dengan lancar. Cerita ini berdasarkan sejarah yang saya dapat dari berbagai sumber baik buku di perpustakaan maupun dari nara sumber lain selaku keturunannya.

Pada jaman dahulu di era kemerdekaan ada seorang Kyai, beliau adalah Kyai  Makmur. Beliau berasal dari keluarga santri. Ayahnya bernama KH. Nawawi. Semasa muda beliau tekun  menuntut ilmu agama  dari pesantren ke pesantren, mulai dari pondok pesanttren di Grobogan, Purwodadi, Solo dan yang terakhir di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Sebuah pondok pesantren yang dipimpin  oleh KH, Hasyim Asy’ari pendiri organisasi masyarakat yaitu Nahdlatul Ulama’. Sepulang dari pondok pesantren Tebuireng beliau diperintah oleh KH. Hasyim Asy’ari agar mendirikan pondok pesantren di Pemalang. Singkat cerita beliau pun membuka pondok pesantren, para santri datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu agama.

Sebelum Kyai Makmur diangkat menjadi Bupati Pemalang, KH. Siraj mengundang Kyai Makmur ke rumahnya. Sesampainya di rumah Kyai Siraj, Kyai Makmur bertanya ada hal penting apa yang harus dibicarakan.

AKTOR MEMERANKAN BEBERAPA TOKOH DIDALAM NASKAH.

“Ada apa kang? Sepertinya ada suatu hal yang harus dibicarakan, sehingga saya  di  panggil ke ndalemnya  njenengan”. Tanya Kyai Makmur kepada Kyai Siraj.

“Begini.... ada suatu hal yang sangat mendesak yang harus aku bicarakan kepadamu. (diam sesaat)  Mengingat Raden Tumenggung Rahardjo Suro Adi Kusumo & Patih Pemalang Raden Sumarto mereka ditangkap oleh kawanan Belanda. Serta Supangat juga telah ditangkap oleh Tentara Keamanan Rakyat dan dijebloskan ke penjara maka sudah saatnya kamulah yang harus maju untuk memimpin daerah ini untuk melindungi wargamu dari tentara Belanda

“(Kyai Makmur mengangguk-angguk). Mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban kita semua, sebagaimana yang difatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari Kyai. Pada tanggal 22 oktober 1945 tentang resolusi jihad agar semua rakyat Indonesia tanpa terkecuali wajib hukumnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia tentu saja saya tanpa ragu akan menghadang para tentara-tentara Belanda itu. Di pondok pesantren para santri tidak hanya mengaji mereka juga berlatih ilmu kemiliteran. (diam sesaat) tapi untuk menjadi bupati Pemalang saya harus mendapatkan restu dari keluarga besar dan harus didukung oleh semua warga Pemalang. Ini adalah tanggung jawab yang besar”.

“Tentu saja, hal itu harus dibicarakan dengan keluarga” Kata Kyai Siraj. Tiba-tiba Kyai Nawawi Ayahanda Kyai Makmur datang.

“Aku setuju kamu harus memimpin Pemalang. Makmur.... Pemalang termasuk wilayah Indonesia. Saat ini Pemalang membutuhkan sosok pemimpin yang tegas dan pemberani, yang berjiwa ksatria dan pantang menyerah. Aku ayahmu, aku tahu semua tentangmu dan aku tahu Pemalang membutuhkan pemimpin yang memiliki watak sepertimu”.

Kyai Makmur pun mengangguk menyetujui setelah mendapat restu dari Ayahandanya. Esoknya di alun-alun Pemalang, para warga sudah berkumpul padat sambil menerikan “Hidup Kyai Makmur....hidup Kyai Makmur...hidup Kyai Makmur...Kyai Makmur Bupati Pemalang....Kyai Makmur bupati Pemalang....Hidup Kyai Makmur....” Kyai Makmur berpidato kepada warga tentang pentingnya rasa nasionalisme, mempertahakan kemerdekaan Indonesia ada kewajiban semua orang termasuk semua warga Pemalang. Lalu Romdhon adik Kyai Makmur datang.

“Kang mas...saya senang panjengan dipilih menjadi Bupati Pemalang, tetapi tugas ini sangat berat, bukan sekedar menjadi Bupati tapi harus juga bersiap-siap menghadapi tentara-tentara Belanda yang kembali datang membonceng sekutu. Dalam agresi militer ke dua”

“Benar katamu Dimas” pungkas Kyai Makmur. “Oleh karena itulah aku membutuhkan orang yang dapat aku percaya untuk menjalankan tugas berat ini, aku membutuhkan kamu untuk menjalankan tugas suci ini”

“Siap kang mas” Jawab Romdhon dengan tegas.

Pada saat itu Nyai Samnah Istri Kyai Makmur juga datang.

“Nyai...kenapa kamu kemari? Kamu sedang sakit, tidak perlu kamu datang kemari”

“Aku ingin melihat  langsung suamiku dilantik menjadi Bupati Pemalang, pesanku bekerjalah dengan Ikhlas tanpa pamrih, jangan mengharap imbalan apapun, tugas ini adalah tugas negara yang harus kanda jalankan sepenuh hati” katanya terbata-bata.

Tidak lama setelah Nyai Samnah menyampaikan wasiatnya, Nyai Samnah menghembuskan nafas terakhirnya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kyai Makmur dalam keadaan berkabung.

“Baik Nyai...wasiatmu akan kanda jalankan sepenuh hati”

DI PONDOK  PESANTREN. TERDENGAR SUARA PARA SANTRI MENGAJI. KYAI MAKMUR SEDANG DI HALAMAN RUMAH. TIDAK LAMA KEMUDIAN TERDENNGAR SUARA PESAWAT BELANDA MEMATA-MATAI WILAYAH PEMALANG.

Pesawat-pesawat Belanda itu sudah datang. Pesawat-pesawat itu pasti sedang memata-matai daerah Pemalang. Itu artinya sebentar lagi perang akan meletus antara warga Pemalang yang tergabung dalam laskar  Hizbullah melawan para tentara Belanda. Benar saja tebakanku, para warga ketakutan. Murah datang tergopoh-gopoh

“Duh Pak kyai....tentara-tentara Belanda sudah datang, mereka membawa senjata canggih, juga menaiki kendaraan-kendaraan tempur, Pak Kyai sebaiknya segera pergi menyelematkan diri”

“Di mana mereka?”

“Di Pendopo Kyai, Monggo Kyai....sebaiknya pergi saja sebelum para tentara Belanda itu menemukan Pak Kyai”

SUARA TEMBAKAN DAN KECAMUK PERANG MAKIN MENGGILA.

“Ora mungkin....ora mungkin aku ninggalke medan perang”

Tidak lama kemudian Masduki seorang pemimpin regu laskar Hizbullah datang sambil membawa bambu runcing.

“Kyai...Kyai....banyak pejuang Hizbullah yang gugur....perang sedang terjadi  dibeberapa tempat”

“Siapa saja yang gugur Pak Masduki?”

“Tamnin....Amnan dan Irsyad mereka sudah gugur Kyai” Katanya sambil terengah-engah.

 

Kurang Ajar.!!! Belanda Kurang Ajar.! Berani-beraninya mereka menjajah Bangsa ini. Kita tidak bisa diam saja, Kang. Kita harus sigap” Begitu Romdhon menimpali.

Tenang. Kita harus mengatur rencana yang matang agar siap menghadapi mereka. Pak Masduki, biar saya di rumah dulu, nanti saya kesana. Saya sanggup mati demi memperjuangkan kemerdekaan. Tolong siapkan pasukan militer. Panjenengan jangan lupa untuk berhati-hati.

Inggih Pak Kiai leres” Jawab Masduki.

Suasana makin kacau, pada saat Romdhon dan Kyai Makmur mengatur strategi, tiba-tiba pasukan Belanda datang. Dari luar rumah terdengar suara pistol, mereka berteriak-teriak memanggil nama Kyai Makmur.

“Makmur...Makmur....cepat kamu keluar....Makmur....”

Tidak lama kemudian para tentara Belanda itu mendobrak pintu rumah Kyai Makmur.

“Kurang ajar kalian, berani-beraninya kalian membuat kekacauan di  wilayahku” Kata Kyai Makmur.

“Begini Kyai Makmur....”Jawab komandan tentara Belanda. “Ik datang kesini mau menawarkan perdamaian kepada kamu orang. Kamu orang sebagai pemimpin pasti bisa membuat keputusan agar perang ini bisa dihentikan”

“Perdamaian? Perdamaian bagaimana yang kalian maksud?” tanya Kyai Makmur kepada tentara Belanda.

“Begini...Ik ingin kamu orang, sebagai Bupati Pemalang tunduk kepada Pemerintah Belanda”

“Tidak mungkin! Tidak mungkin saya tunduk kepada Pemerintah Belanda. Indonesia  sudah merdeka, dengarkan apa yang saya omongkan ini.

Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati- satu sentuhan kening, satu jari luas-nya bumi bertaruh nyawa. Kemerdekaan Indonesia  tidak bisa ditawar, Kemerdekaan Indonesia akan kami pertahankan hingga titik darah penghabisan”.

Mendengar jawaban itu komandan tentara Belanda marah.

“Bawa mereka berdua” perintah komandan  tentara Belanda kepada anak buahnya. Kyai Makmur dan Romdhon dibawa dengan paksa oleh tentara Belanda. Hingga sampai diarea pinggir jalan area persawahan.

Di kejauhan seorang angon menyaksikan peristiwa ini. Angin mendesir seolah berpesan kepada mereka berdua, tidak ada yang perlu ditakuti dari para penjajah.

SUASANA HENING. AKTOR MEMBELAKANGI PANGGUNG. SUARA KOMANDAN TENTARA BELANDA MEMBERIKAN PERINTAH.

“Tembaaaaaaak”

TERDENGAR SUARA SENAPAN DUA KALI. AKTOR KEMBALI MEMERANKAN KYAI MAKMUR. DADANYA DITEMBAK DAN BERDARAH.

“Allahu Akbar....Merdeka”.

KYAI MAKMUR TERJATUH. SUARA BIOLA MENGIRINGI LAGU GUGUR BUNGA. LAMPU PADAM.

SELESAI

 

Jumat, 21 Februari 2025

Puisi judul URUT SEWU

Karya: Ahmad Bukhori 


Nak 

habiskan makanmu

karena sebutir nasi sangat berarti

ternyata untuk menghasilkan padi

bukan hanya membutuhkan keringat

tapi juga keberanian


Nak 

habiskan makanmu

lihat itu para petani

sedang berjuang agar dapat menanam padi

nak benar kata nenekmu

nasi-nasi menangis bila tak kau habiskan makanmu

dan itu adalah air mata petani


Nak 

sebutir nasi lebih berarti daripada peluru


                           Pemalang, 12 September 2019

Puisi judul KUBUR DALAM KAMAR

Karya: Ahmad Bukhori


Singa Afrika datangi aku dari jiwa

Mencakar-cakar tubuh hingga tergores merah

...

Di dalam kubus kamar

Aku berputar-putar

Kembali kemasa purba

Puaskan batin kembali ke pedalaman

Mantra-mantra aku baca diatas ubin

Dan berkaca kenakan topeng agar tak kenali wajah asli

Bila ingin lihat raut muka dan tubuh

Aku lihat di kedalaman air kolam

Hitam legam mengerikan

Seperti arwah yang mengancam


Aku manusia primitif di tengah mesin-mesin

Bermaian-main ‘ku tapaki kotak-kotak ubin

Kakiku berakar seperti pohon asam ditengah rimba purba

Menjulur kedalam tanah berwarna merah mencengkeram bumi

Kulihat kakiku hitam legam seperti dukun dari pedalaman Afrika


Ruh-ruh terbang didalam kamar

“Tidak apa-apa” katanya

Demi aroma aku panggil aroma

Kuhirup bau kemenyan tanpa asap

Tanpa kusulut kuhirup bakaran daun sorga


Aku bercerita

Tentang lelucon bodoh

Disaksikan seribu malaikat dan ruh

Bertepuk tangan tanpa bunyi

Tertawa tanpa suara

Mereka bercermin dengan telapak tangan

Dan memberiku punggung tangan

Ruh-ruh berdoa berhadapan dengan tubuhnya

Dan meniup-niup punggungku


Luar biasa…

Hidup dan matinya tanpa disangka

Lalu ‘kubaca air dengan kata darah

Demi raga dan sukma

Tiba-tiba cengkraman tanganku sekuat singa Afrika

Jejakan kakiku sekuat akar pohon purba

Tubuhku adalah rumahku

Tak perlu api atau lampu

Dalam kegelapan cahaya membentuk tanda cinta yang tersusun

Lalu terdengar adzan subuh

Tawa dan tangis menjadi sang akhir

Seperti topeng tragedi komedi 


Pemalang, 2010

Catatan:

Puisi ini ada revisi pada tanggal 22 Februari 2025 pada baris terakhir

Puisi judul Bintang Jatuh Menjelang Isya'

(Untuk Lukman Reakses)

 Karya: Ahmad Bukhori 


Empat belas tahun lalu 

awal cerita membuka panggung 

memberikan sesuatu yang tidak sekedar berbeda tapi bermakna

layar dibuka

topeng tragedi komedi dipancangkan 


Dan


Hidup adalah rangkaian peristiwa tragedi komedi

meski selalu suka tapi diakhir cerita sesungguhnya mengundang air mata


Empat puluh hari lalu

namamu terdengar dari musholla ke musholla 

terbawa angin hingga ke media sosial-media sosial 

adalah kabar yang tidak aku sangka

menyudahi canda tawa dan segala masalah 

tentang kata-kata dan tubuh yang muntah tak terhingga rasa dibawah sorot lampu panggung 

menyisakan kain hitam 

membuat mata penonton berkaca-kaca 

lampu panggungmu tiba-tiba padam  

panggungmu gelap tanda usai pentasmu

penonton tersudut di sudut sunyi

doa-doa membumbung hingga ke langit 

layarmu ditutup ceritamu berakhir tugasmu selesai

Tuhan memanggilmu 

 

Tak dapat kubandingkan tulusmu  

saat-saat tekadmu menembus angin malam

berhari-hari kau temani aku

dalam "Demokrasi"* aku bercerita kau setia mendengarkan

dalam "Bingo"* kau beri satu kata tapi utama

dan kita protes pada situasi sambil memberi tawa


Atau


Dalam apa saja engkau belajar mengeja kata-kata dan melangkah 

semangatmu sekuat tiga delapan tenaga kuda stabil dan tidak pernah berakhir

belajar dan terus belajar pada siapa saja dan pada apa saja


Seperti udara diberbagai cuaca 

kokoh tak habis meski tiada

memberi makna pada yang masih ada

sekelebat bintang jatuh dari langit menembus atmosfir 

menjadi pusaka ditangan sang maha empu

dalam api gurambara* "Risalah Pemabuk"*

mematangkan jiwa-jiwa muda

dari panggung mencabik-cabik emosi para penonton 

tentang pelita dan gulita 

hingga layar panggung ditutup 

atau sebagai seharusnya 


Pemalang, 8 Februari 2025


Catatan:

*Demokrasi naskah monolog Putu Wijaya 

*Bingo naskah teater reakses karya kolaborasi 

*Risalah pemabuk naskah monolog karya Idham Adi Nurcahyo

*Puisi ini mengalami revisi pada tanggal 9 februari 2025

*Api gurambara adalah istilah yang saya dapatkan dari Meta AI yang berarti awan yang berat, penambahan kata api menjadi lebih spesifik api yang dahsyat.