Senin, 24 Maret 2025

Puisi

 

PUISI SUMPAH

Oleh: Ahmad Bukhori

 

Puisiku adalah pedang bermata dua,

tajam mengecam, mengancam,

kan mencincang-cincang.

nanar melihat,  membabat!

 

Aku bukan samurai,

tapi memiliki jiwa.

puisiku adalah benda-benda:

batu, kayu, api, air atau apa saja.

 

Adalah puisiku:

kuda, kereta dan kujang,

maju, menghantam dan menerjang.

menyimpan dendam, amarah dan kutukan,

‘kan menghujam hingga binasa.

 

Tidurku menayuh keris,

teman hati yang teriris,

kugenggam dimalam gerimis,

dan tongkatku adalah tombak,

kawan di jalan penolak balak.

 

Puisiku adalah segala,

tersimpan rapi di dalam jiwa,

bagai badai bara membara,

musnahlah! musnah! musnah!

 

Pemalang, 8 Maret 2025

 

SEMAR SUPER SAMAR

Oleh: Ahmad Bukhori

 

Supersemar,

bayang-bayangmu begitu samar,

kesaktianmu dongeng dibalik layar,

suratmu terbawa angin entah kemana,

semua hilang samar-samar.

 

Gunung emas kau telan ke dalam perut,

senyummu membius para punggawa dan jelata,

dudukmu terlalu lama,

ajianmu palsu belaka, pun bunyi kentutmu;

"Surat Perintah Sebelas Maret."

terngiang-ngiang hilang.

 

Aku menutup hidung,

kentutmu tak memberikan kesadaran,

jelas bukan ajian,

super samar bukan super semar.

           

Dan telunjuk jarimu adalah pistol menodong,

sebelas surat semuanya cek kosong,

surat apa? untuk siapa?

sebelas maret entah dimana,

inilah sejarah berbau kentut,

semua tertipu, luka-luka merenggut.

 

11 Maret 2025

 

MAWAR

Oleh: Ahmad Bukhori

 

Ada mawar dibalik kuasamu,

sang penebar aroma kematian,

tumbuh mekar di atas anyir jasad korban,

dan tulang belulang remuk dihaluskan,

menyelinap, senyap di sudut gelap lenyap.

 

Merahmu darah mereka mengalir kelam,

hitam merayap di rahasia malam,

durimu kawat kuat jadi penghalang,

tangkai besi melindungi tirani,

kelopakmu daya tarik sang awam,

dibalik itu menyebar benih-benih ketakutan.

 

Kau tumbuh tinggi berduri,

berdiri di puncak singgasana kini,

kau tak terjangkau pedang Justitia,

siapa berani kan susul bersama mereka,

dan penyair yang hilang.

 

Pemalang, 13 Maret 2025

 

NEGARA TANPA CAHAYA

Oleh: Ahmad Bukhori

 

Seekor laba-laba merajut sarang di istana,

di sudut-sudut gelap dan di kolong-kolong meja,

jaringnya menangkap cahaya,

tanah air menjadi hitam pekat.

 

Seseorang muncul dari lorong kelam,

diiringi alunan gending jawa dari CD bajakan,

setelah menang taruhan dengan banyak suara,

lalu mengkultuskan diri sebagai raja Jawa,

taktik jitu menundukkan penduduk ratusan juta jiwa.

 

Langkahnya optimis, aura terpancar licik,

kerabat dekat dijadikan pejabat,

kroni-kroni duduk di kursi empuk,

dan jaringan pun terbentuk,

tak peduli tiang penyangga bangsa kian rapuh.

 

Semua duduk di kursi,

dan tangan- tangan bekerja di bawah meja,

sibuk membangun citra, merubah aturan,

kronisme membuat negeri semakin kronis,

barisan penganggur harapannya tergusur.

 

Perlahan wajah kroni dan famili berubah,

gigi-gigi tajam dan rahang membesar seperti rayap,

menggerogoti semua laci besi hingga keropos,

saling melindungi,

tak peduli ratap rakyat yang semakin kuat.

 

Mereka terus bekerja dalam jaringan,

ada muka-muka tikus,

mencuri hak rakyat dengan rakus,

berlompatan berkejaran menari-nari di lemari besi ,

menggerogoti isi dompet negara tak tersisa,

 

Kawanan kleptokrasi menyerang institusi,

sementara muka-muka terluka,

menggenggam amarah,

duka.

 

Dari CD bajakan gending Jawa kembali mengalun,

seolah negara ini miliknya,

puluhan triliunan rupiah tak berjejak,

seperti janji bergunung-gunung tertutup kabut,

rakyat kecewa,

terjebak janji-janji manis mulut buaya,

di arus sungai dusta.

 

Di pagi buta usai hujan di ibu kota,

ular besar memanjang menggeliat melilit lembaga,

dari Sabang sampai Merauke,

dari pulau Miangas hingga pulau Rote,

taringnya tajam menyeringai,

digerbang istana mulutnya menganga,

ekornya di ujung desa jauh paling terpencil.

 

Jaring-jaring kian membesar dan lengket,

seseorang mewariskan bayangan gelap,

menempel lekat di sudut-sudut,

tukang sapu, sapunya patah,

tak sanggup mendorong sampah.

 

Orang-orang tanpa nama protes,

merapalkan doa dengan cara mereka;

"kami berbaris melawan, dengan tangan gemetar,

keris, pedang, tombak dan panah menjadi azimat,

atau

hadirkan pagi lebih pagi, untuk menyingkap  gelap,

agar bangsa ini terang benderang kembali."

 

Pemalang, 18 Maret  2025

 

 

 

 

 

AIR-AIR TERSESAT

Karya: Ahmad Bukhori

 

(Intro: Spoken word. Suasana sunyi. Senja di tepi sawah yang terendam air rob, terdengar suara serangga)

Air-air tersesat tak juga pulang-pulang,

di rumah-rumah, sawah-sawah dan ladang-ladang,

orang-orang desa mengenang masa gemilang,

tentang udang yang dieksport ke negeri seberang.

(Chorus)

Kini, lain cerita siang dan malam,

tak ada panen padi semua terendam,

ikan-ikan hanyut kabur nasib tenggelam,

terkubur air rob membawa kelam.


Tak ada hangat api batu bata,

hilang-lenyap-musnah segala,

binasa harta dan jiwa,

kami ingin berdamai sudah.


(REFF- Sunyi pelan seperti malam di tengah rawa)

Di lipatan malam para sesepuh berdo’a;

“Pulanglah.. sudah berkali lipat senja,

kami sudah tak punya apa-apa,

bawalah pergi pemandangan sehari-hari ini,

agar esok cerita lebih indah kembali."


(Ending pelan penuh harap)

Air laut asin naik seperti tersesat,

pulanglah segera ke segara,

bawalah rasa susah kami,

ke ombak-ombak padang air rumahmu.


Agar  anak sekolah,

tak lagi belajar di genangan air asin,

agar petani tak lagi menatap air,

dan nelayan tak lagi menatap langit,

agar hidup kami tak lagi serba sulit.

(Outro-suara camar dan angin)


Pemalang, 25 februaari 2025

ROB

Karya: Ahmad Bukhori

 

Di sini desa-desa terendam air payau

Tapi yang kau pagari laut Tangerang hingga Banten

Rawa-rawa disini dulunya sawah

Tapi kau babat hutan untuk mencetak sawah

 

Di sini dulu tambak-tambak berkualias tinggi

Ikan dan udang kami eksport ke luar negeri

Di sini dulu penuh kebun melati mewangi

Tapi kini sudah mati

 

Kenapa tak kau manfaatkan yang ada?

Kenapa kau suka mengada-ada?

Untuk menjadi kelas berada.

Di atas derita-derita.

 

Pemalang 28 Februari 2025

 

DAN ANTARA

Karya: Ahmad Bukhori

 

Krek...krek...klik...

Umpan dana besar,

akan mendapatkan koruptor besar,

umpan dana kecil,

akan mendapatkan koruptor kecil.

 

Duk...duk...duk...

Dan antara mereka menipu,

dan antara mereka menyalah gunakan kuasa,

dan antara mereka menyimpan rahasia,

dan antara mereka main mata.

 

Duk...duk...duk...

Dan antara mereka menjilat,

dan antara mereka menyuap,

dan antara mereka bersekongkol,

dan antara mereka tertawa menang.

 

Duk...duk...duk...

Dan antara mereka mengutil,

dan antara mereka menjarah,

dan antara mereka merampok,

dan antara mereka berpesta.

 

Duk...duk...duk...

Dan antara mereka korupsi,

dan antara mereka kolusi,

dan antara mereka nepotisme,

dan antara mereka kleptokrat.

 

Pemalang, 1 maret 2025

 

 

KITA BIDAK-BIDAK CATUR

Karya: Ahmad Bukhori

 

Kita hidup bernegara,

Seperti bermain diatas papan catur,

Semua posisi dan langkah sudah diatur,

Permainan yang tidak melulu menang kalah,

 

Tapi ada harapan jika tidak mungkin menang,

Setidak-tidaknya tidak kalah.

 

Pion digaris depan maju adalah kamu

Benteng lurus menghatam adalah keamanan

Kuda perang melompat menerjang adalah yudikatif

Peluncur meluncur membidik adalah legislatif

Ster kuat memukul seperti benteng dan peluncur adalah eksekutif

Raja target utama juga harus dilindungi adalah korporasi

 

                                                             Pemalang, 26 Februari 2025

 

BIDAK-BIDAK BICARA

Karya: Ahmad Bukhori

 

Tak...

Aku adalah pion bergerak maju,

pantang mundur meski hancur lebur,

di atas papan berada, berkata;

“Aku di garis depan menembus garis belakang lawan.”

 

Zab...

Aku adalah benteng kokoh sekokoh gunung,

menghantam menyerang memukul lurus, berkata;

“Akulah pagar yang kuat dililit berduri penghalang lawan,

siapapun lawan menghadang di depan akan kuhantam.”

 

Tuk-tak-tuk-tak...

Aku adalah kuda perang,

meringkik melompat menerjang lawan tak terduga, berkata;

“Akulah kuda Troya yang memberi kejutan pada setiap lawan,

dengan sekali sepakan delapan musuh terancam terjungkal.”

 

Zheb...

Akulah gajah melangkah meluncur,

menyeruduk menginjak lawan, berkata;

“Aku kuat penunggangku menyerang memanah

atau melempar lembing dari sudut tersembunyi.”

 

Dom-dom...

Aku adalah menteri langkahku kuat,

seperti benteng dan gajah dan berkata;

“Akulah yang paling ditakuti musuh,

pukulanku seperti palu godam,

meruntuhkan pertahanan lawan dalam sekali hempasan.”

 

Tap...

Dan akulah raja melangkah setapak demi setapak,

bertutur kata bijak dan bertindak, berkata;

“Janganlah gegabah dalam melangkah,

setiap perkataan adalah ketetapan,

dan tak dapat ditarik kembali.”

 

Pemalang, 21 Februari 2025

 

 

Minggu, 23 Maret 2025

DOMBA, SERIGALA DAN HARIMAU 

Oleh: Ahmad Bukhori 


Mereka lebih tampak seperti serigala-serigala reformasi,

lolongan serigala tak mewakili domba,

hanya ingin didengarkan dari podium,

memanggil kawanan berburu makanan,

mulut-mulut berdecak membaca hasil rapat yang ditutup rapat-rapat, 

runcing taring mengancam mencabi,

tamak melolong; "Makan, makan, makan."

makan uang rakyat! Makan sana! Makan sini!


Sementara rakyat seperti domba-domba,

lemah mudah diperdaya,

domba-domba pelupa,

memilih serigala jadi wakil di parlemen rimba,

berulang kali dikhianati, tapi masih kembali,

tak jua jera meski berkali digigit dusta.


Sementara...

serigala tak berkutik disandera harimau,

karena pernah mencuri kepala babi,,

dikira kepala banteng,

kepala babi dikirim ke kantor media,

menebar teror.

sebenarnya menunjukkan muka mereka sendiri.


Bagaimana mungkin kawanan domba memilih harimau menjadi pemimpin?

harimau sirkus tak berani melawan naga, 

hanya pemangsa domba,


Harimau dan serigala bersekutu,

berbagi mangsa,

memperdaya kawanan domba,

tak sadar mengembik,

meminta rumput pada serigala.


Hari-hari domba penuh ironi,

lengah dibutakan janji-janji lolong serigala,

tak ada padang rumput yang dijanjikan,

hanya diadu untuk hiburan belaka.


Kesadaran datang, 

insting domba-domba berlari ke gunung,

bertapa memanjat tebing menjadi kambing gunung,

para predator mengejar.

merengek minta daging mereka,

sorot matanya menindas dan memelas,

tapi kambing gunung berdiri ditebing berlompatan,

tak percaya lagi pada lolong merdu serigala.


Serigala kembali lapar sendiri,

tak ada lagi yang bisa dikhianati.

mati kelaparan karena mangsa berani melawan,

dan harimau pingsan diinjak kaki-kaki singgahsana rimba raya.

aumannya tak lagi ditakuti,

keringatnya mengeluarkan bau bangkai tikus.


Berkaca pada air,

tapi air mengatakan;

"Mukamu seperti tikus yang mati dilindas sepeda motor."

ia tak percaya,

lalu bertanya pada media,

media berkata;

"ya, kamu memang tikus dilindas sepeda motor."

serigala bermuka tikus, penghianat sekaligus pencuri.


Pemalang, Maret 2025

Sabtu, 22 Maret 2025

MATA PETANI

Oleh: Ahmad Bukhori 


Aku melihat mata para petani berkaca-kaca,

memantulkan sawah yang menjadi rawa,

 “kenapa?” tanyaku,

“pemangku kebijakan berpangku tangan.” katanya,

tak ada buaya di rawa,

tapi mulutnya seperti menganga di pintu-pintu lembaga.


Mata petani banjir menjadi rawa,

karena tak ada padi yang bisa dibagi,

air tak mungkin dibagi,

kecuali rob air mata,

tenggelamkan mimpi petani,


Sementara,

Perahu di muara kandas menyentuh tanah,

meski air terus turun dari langit dan gunung.

dan pasang air laut tak surut-surut,

tapi muara dangkal sejengkal.


Meski hujan berhenti menghujam,

para petani dikepung air mata rob,


Pemalang, 7 Maret 2025

 STOP MILITERISME 

Oleh: Ahmad Bukhori 


Tanggalkan baju kamuflase apapun warnanya,

copot saja sepatu lars itu,

sebab kan sembunyikan kebenaran,

tak perlu derap sepatu menghentak.


Lihatlah para pejuang jaman dulu,

tak berseragam tak bersepatu,

berbekal do'a dan bambu,

bertempur sambil menari-nari.


Melawan para penjajah,

Jepang, Belanda dan Gurkha,

berpeci miring, berselempang sarung,

jurus silat, tendangan penghancur tank.


Sejarah mengajarkan keberanian,

terletak pada tekad,

loyalitas dan kejujuran,

bukan pakaian yang ditakuti tentara kompeni.


Jauhkan simbol-simbol kekerasan,

Polisi simpan sangkurmu,

Militer kembalikan  ke barak,

niscaya kan baik-baik saja.


Pemalang,   Maret 2025

Jumat, 07 Maret 2025

Naskah Teater Remaja (Kolosal) Desa Pesilat

 

DESA PESILAT

Karya : Ahmad Bukhori

MUSIK MENUNJUKAN SUASANA DESA.

DI SEBUAH DESA YANG SANGAT SUBUR. RAKYATNYA  HIDUP BERKECUKUPAN. DESA ITU DIPIMPIN OLEH KI LURAH YANG SANGAT BIJAKSANA. DI DESA ITU RAKYATNYA BERPENGHASILAN DARI BERTANI.

PANGGUNG TERANG. PARA WARGA MEMBAWA HASIL PERTANIAN, MEREKA SELESAI MEMANEN HASIL PERTANIAN. PARA WARGA BERNYANYI RIANG GEMBIRA.

Semua warga : Lihatlah desa kami. Desa kami sangat subur dan Makmur. Tidak ada satu pun dari kami yang kekurangan makan.

01.  Warga 1 : Iya, Kami di sini hidup serba berkecukupan..

02.  Warga 2 : Iya kang benar, bulan depan panen akan sangat berlimpah.

03.  Warga 3 : Benar, sepertinya sawah saya saja dapat menghasilkan seratus karung padi.

04.  Warga 4 : Tomat dan sayur mayur, sangat berlimpah.

05.  Warga 5 : Buah-buahan seperti semangka, timun suri juga panen di ladang saya.

06.  Warga 6 : Panen yang akan datang benar-benar panen raya. Semua petani merayakannya.

07.  Warga 7 : Hewan ternak juga sehat semua, tidak ada yang terkena penyakit.

08.  Warga 8 :  Ini  semua berkat Ki Lurah kita yang pandai dan adil dalam memimpin desa kita ini.

TIBA-TIBA KI LURAH DATANG

09.  Ki Lurah  : (Berdehem) EHm.. ehm…Ada ap aini? Kok nama saya dibawa-bawa.

10.  Warga 1 : Ini Ki lurah musim panen yang akan tiba benar-benar melimpah. Hasil panennya diluar dugaan, tidak seperti biasanya.

11.  Ki Lurah : Oh…Semua ini berkat kegigihan semua warga dalam bertani, kalau saya kan hanya kepala desa yang tugasnya mengkoordinasi bawahan saya.

SEMUA WARGA MENGANGGUK SETUJU.

12.  Ki Lurah : Nah untuk menunjukan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian kali ini alangkah baiknya kalau kita melakukan sedekah bumi. Kita adakan doa Bersama yang nanti akan dipimpim oleh sesepuh desa.

13.  Warga 3 : Setuju ki Lurah, dan jangan lupa nanggap wayang kulit kita  undang dalang kondang dari luar desa.

14.  Warga 4 : Dan juga kethoprak pak Lurah.

15.  Ki Lurah : Iya..iya….saya setuju.

MUSIK MENCEKAM. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA MINTA TOLONG DARI KEJAUHAN. MAKIN LAMA MAKIN DEKAT.

16.  Suara : Tolong…tolong…tolong….

17.  Ki Lurah :  Ada apa  itu, kok sepertinya ada yang minta tolong.

18.  Suara : Tolong…tolong….

19.  Warga 5 : Sepertinya saya mengenal suara itu Ki.

20.  Ki Lurah : Iya sepertinya itu suara Mukidi. Waduh ada apa ini?

MUKIDI MASUK.

21.  Mukidi : (Ngos-ngosan) Tolong….tolong…tolong saya Ki Lurah

22.  Ki Lurah : Ada apa ini, kok sampeyan seperti dikejar-kejar setan seperti itu.

23.  Mukidi : Anu ki….anu..

24.  Ki Lurah : Anu..anu… anu apa?

25.  Mukidi : Anu…

26.  Warga 6 : Anu apa? Anunya siapa?

27.  Mukidi : Anu kawanan perampok sedang menuju ke sini ki.

28.  Semua : Perampok?

29.  Mukidi : Iya perampok. Mereka habis merampok desa sebelah. Rumah-rumah dibakar karena warga di desa sebelah melawan ki.

30.  Ki Lurah : Waduh….celaka ini.

SEMUA WARGA PANIK.

31.  kI Lurah : Tenang-tenang. Semua warga jangan panik. Semuanya tenang. Biar nanti saya yang hadapi.

32.  Mukidi : Tapi Ki, para perampok itu sangat bengis, mereka akan melakukan apa saja kalau permintaan mereka tidak dipenuhi.

33.  Ki Lurah : Iya..iya saya mengerti. (Berpikir keras) Sebaiknya kalian pulang ke rumah masing-masing, jaga dan lindungi anak istri kalian.

34.  Warga 7 : Tapi Ki Lurah….

35.  Ki Lurah : Sudah jangan ngeyel…sana pulang ke rumah masing-masing biar saya yang hadapi para perampok itu.

MUSIK HENING LAMA KELAMAAN MENJADI MENCEKAM. PARA WARGA PULANG KE RUMAH MASING-MASING. KI LURAH TAMPAK BERPIKIR KERAS. TIBA-TIBA GEROMBOLAN PERAMPOK DATANG.

36.  Ketua Perampok : (berteriak) Siapa lurah di desa ini?

37.  Ki Lurah : (Tenang) Saya lurah di desa ini. Ada apa tuan?

38.  Ketua Perampok : DI mana para penduduk desa? Kenapa des aini sepi?

39.  Ki Lurah : Ehmm…anu tuan para penduduk sedang di sawah dan ladang.

40.  Ketua Perampok : Tidak mungkin semua ke sawah.

LALU KETUA PERAMPOK MEMERINTAHKAN KEPADA PARA ANAK BUAHNYA.

41.  Ketua Perampok : Anak buahku semuanya. Kumpulkan semua penduduk desa di sini. Ambil semua harta benda dari penduduk.

42.  Para perampok : Baik ketua…

KI LURAH HENDAK MENGHALANGI TAPI JUSTRU DITENDANG.

43.  Ki Lurah : Tunggu…tunggu bisa kita selesaikan baik-baik.

44.  Perampok 1 : Minggir kamu.

KI LURAH JATUH LALU TANGANNYA DIIKAT OLEH SALAH SATU PERAMPOK. TERDENGAR SUARA PENDUDUK MINTA TOLONG. PARA PERAMPOK MENGGELEDAH RUMAH-RUMAH PENDUDUK.

45.  Suara Para penduduk : Tolong…ampun tuan ampun.

46.  Ki Lurah : Jangan apa-apakan penduduk. Apa yang kalian mau?

47.  Perampok 2 : Diam kamu. Kumpulkan semua hasil bumi dan ternak.

48.  Warga 3 : Di Desa iini belum waktunya panen, bagaimana kami akan mengumpulkannya?

49.  Perampok 3 : Jangan bohong.

50.  Wraga 4. Betul kami tidak bohong.

51.  Perampok 4 : Bohong. Selama perjalanan kami melihat hasil panen des aini bagus semua.

52.  Warga 5 : Tidak, desa kami gagal panen tuan. Saya menanam pare lima hektar hasilnya pahit semua.

53.  Perampok 5 : (marah) Jangan main-main kamu.  ki Lurah ikut dengan kami sebagai jaminan, purnama yang akan dating kami akan dating lagi untuk membawa permintaan kami.

KEPADA ANAK BUAHNYA YANG BERJUMLAH KURANG LEBIH LIMA ORANG.

54.  Ketua Perampok : Ayo…kita pergi dari sini. (Kepada Penduduk) Dengarkan semua penduduk desa. Kami akan datang lagi ke desa ini sebagai jaminannya lurah kalian kami jadikan sandera. (kepada anak buahnya) Ayo kita pergi!

PARA PENDUDUK BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL-MANGGIL NAMA KI LURAH.

55.  Para penduduk : Ki Lurah…ki lurah……

PARA PERAMPOK PERGI. KI LURAH DIBAWA PAKSA DENGAN TANGAN TERIKAT.

MUSIK SEPI. TAK LAMA KEMUDIAN SEORANG PENDEKAR DATANG, SUASANA DESA SEPI.

56.  Pendekar : (beristirahat) Oh…desa apa ini, kok tampaknya tidak seperti biasanya, tidak seperti desa yang lainnya. Di mana para penduduk lainnya.

DUA ORANG PENDUDUK LEWAT.

57.  Pendekar : (memanggil) Pak dimana warga yang lain, kenapa tidak ada kedai makanan yang buka?

58.  Warga 1 : (Ketakutan) Tuan ini siapa? Apakah tuan ini salah satu anggota perampok tadi?

59.  Pendekar : (Terkejut) Perampok? Bukan, saya hanya pengembara. Oh ya…apakah des aini telah dirampok?

60.  Warga 2 : Iya benar tuan, bahkan lurah kami pun disandera, dibawa bersama para perampok. Para perampok itu mengancam purnama yang akan datang, akan datang lagi agar kami memberikan yang mereka minta.

61.  Pendekar : (Mengangguk) Kalau begitu kenapa tidak melawan saja?

62.  Warga 1 : Melawan? Bagaimana kami akan melawan, kami tidak bisa berkelahi, kami hanya kaum petani dan kami juga tidak memiliki senjata seperti tuan ini.

63.  Pendekar : Oh begitu. Jika tidak keberatan kumpulkan semua warga kita akan berlatih ilmu silat.

64.  Warga 2 : Baik tuan.

WARGA 1 dan 2 MENGUMPULKAN WARGA DESA DENGAN BUNYI KENTONGAN.

65.  Warga 1 : Pengumuman-pengumuman. Kepada semua warga untuk untuk berkumpul.

 SEMUA WARGA BERKUMPUL.

66.  Warga 3 :  Ada apa lagi ini kang? Apa gerombolan perampok itu datang lagi? (melihat kea rah pendekar) Orang ini siapa kang?

67.  Warga 1 : Tidak. Beliau ini seorang pengembara, beliau ini berjanji akan mengajarkan kepada kita semua bagaimana caranya melawan para perampok.

68.  Warga 3 : Oh Begitu.

69.  Warga 2 : Iyaa benar (kepada pendekar) Silahkan tuan, semua warga sudah berkumpul. Waktu dan tempat saya persilahkan.

PENDEKAR BERBICARA KEPADA SEMUA WARGA DESA SEBELUM MEMULAI LATIHAN SILAT.

70.  Pendekar : Assalamulaikum warahmatullah hi wabarokatuh.

71.  Semua warga : Waalaikumsalam Wr.Wb.

72.  Pendekar : Bapak-bapak semua warga desa yang saya hormati. Saya mendengar kabar bahwa desa ini telah didatangi gerombolan perampok. Oleh karena itu kita semua harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kedatangan para perampok itu. Baiklah langsung saja kita mulai latihan silat. Semuanya berbaris.

PARA PENDUDUK MENURUTI INSTRUKSI DARI PENDEKAR. WARGA BERLATIH SILAT ATAS ARAHAN PENDEKAR. TAK LAMA KEMUDIAN LATIHAN SILAT SELESAI.

73.  Pendekar : Latihan saya kira sudah cukup. Kepada semua warga untuk selalu siap memberikan perlawanan apabila sewaktu-waktu gerombolan perampok itu datang.

74.  Semua warga : Siap pendekar.

PANGGUNG KOSONG. MUSIIK SUNYI. TIBA-TIBA GEROMBOLAN PERAMPOK DATANG SAMBIL BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL-MANGGIL WARGA SAMBIL MENGANCAM.

75.  Ketua Perampok : Dimana para penduduk. Hei dimana kalian semua. Sekarang sudah waktunya kalian menyerahkan hasil pertanian. Kalau tidak maka lurah kalian akan mati.

TIBA-TIBA SEMUA WARGA DATANG DI PIMPIN OLEH PENDEKAR.

76.  Pendekar : (Kepada ketua rampok) Lepaskan Ki Lurah.

77.  Ketua perampok : Hei siapa kamu? Sepertinya kamu bukan warga desa sini.

78.  Pendekar : Siapapun saya tidak penting. Tapi yang jelas kalian sudah melakukan kesalahan karena merampok warga desa.

79.  Ketua perampok : Ah…kamu ikut campur saja. (kepada anak buahnya) Ayo…hancurkan des aini…bakar semua rumah.

MUSIK MENCEKAM SUASANA PERANG. PARA PERAMPOK MENGAMUK, NAMUN WARGA MEMBERIKAN PERLAWANAN. PERKELAHIAN TERJADI SERU. GEROMBOLAN PERAMPOK KALAH, KI LURAH BERHASIL DIBEBASKAN, TINGGAL KETUA PERAMPOK DAN PENDEKAR BERDUEL. PERKELAHIAN DIMENANGKAN PENDEKAR. TANGAN KETUA PERAMPOK DIKUNCI PENDEKAR SEHINGGA TIDAK BISA BERGERAK.

80.  Pendekar : Bagaimana? Menyerah atau tidak?

KETUA PERAMPOK MENAHAN SAKIT.

81.  Ketua perampok : (Kesakitan) Iya..iya….saya berjanji tidak akan berbuat jahat lagi.  Saya berjanji tidak akan merampok lagi.

82.  Pendekar : Kamu berjanji???

83.  Ketua perampok : (kesakitan) Iya….tolong….tolong ….jangan patahkan tangan saya. Saya berjanji tidak akan merampok lagi, saya akan menjadi warga biasa.

GEROMBOLAN PERAMPOK MENYERAH. WARGA DESA MERAYAKAN KEMENANGANNYA.

84.  Semua Warga : (bersorak) Hore…hore…hore…. Kita menang…hore kita menang.

85.  Ki Lurah : Terimakasih tuan pendekar…terimakasih telah mengajarkan ilmu silat kepada warga…terimakasih.

86.  Pendekar : Sama-sama ki lurah. Sesungguhnya didalam kekuatan yang besar, memikul tanggung jawab yang besar juga.

87.  Semua Warga : Hidup pedekar…hidup pendekar….

PARA WARGA DESA MERAYAKAN KEMENENGAN BERSORAK SORAI.

SELESAI.