Karya: Ahmad Bukhori
Singa Afrika datangi aku dari jiwa
Mencakar-cakar tubuh hingga tergores merah
...
Di dalam kubus kamar
Aku berputar-putar
Kembali kemasa purba
Puaskan batin kembali ke pedalaman
Mantra-mantra aku baca diatas ubin
Dan berkaca kenakan topeng agar tak kenali wajah asli
Bila ingin lihat raut muka dan tubuh
Aku lihat di kedalaman air kolam
Hitam legam mengerikan
Seperti arwah yang mengancam
Aku manusia primitif di tengah mesin-mesin
Bermaian-main ‘ku tapaki kotak-kotak ubin
Kakiku berakar seperti pohon asam ditengah rimba purba
Menjulur kedalam tanah berwarna merah mencengkeram bumi
Kulihat kakiku hitam legam seperti dukun dari pedalaman Afrika
Ruh-ruh terbang didalam kamar
“Tidak apa-apa” katanya
Demi aroma aku panggil aroma
Kuhirup bau kemenyan tanpa asap
Tanpa kusulut kuhirup bakaran daun sorga
Aku bercerita
Tentang lelucon bodoh
Disaksikan seribu malaikat dan ruh
Bertepuk tangan tanpa bunyi
Tertawa tanpa suara
Mereka bercermin dengan telapak tangan
Dan memberiku punggung tangan
Ruh-ruh berdoa berhadapan dengan tubuhnya
Dan meniup-niup punggungku
Luar biasa…
Hidup dan matinya tanpa disangka
Lalu ‘kubaca air dengan kata darah
Demi raga dan sukma
Tiba-tiba cengkraman tanganku sekuat singa Afrika
Jejakan kakiku sekuat akar pohon purba
Tubuhku adalah rumahku
Tak perlu api atau lampu
Dalam kegelapan cahaya membentuk tanda cinta yang tersusun
Lalu terdengar adzan subuh
Tawa dan tangis menjadi sang akhir
Seperti topeng tragedi komedi
Pemalang, 2010
Catatan:
Puisi ini ada revisi pada tanggal 22 Februari 2025 pada baris terakhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar