KYAI MAKMUR
(Bupati Pemalang era kemerdekaan)
PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA PERANG, BEBERAPA BAMBU RUNCING TAMPAK
BERDIRI. LAMPU MENYOROT PADA SEORANG AKTOR DIATAS PANGGUNG. MUSIK PEMBUKA.
Selamat datang para hadirin sekalian yang berbahagia. Pada kesempatan kali
ini saya akan bercerita tentang seorang Kyai yang juga menjadi bupati di
Pemalang ke tiga pada era kemerdekaan. Namun sebelum itu, hohon para hadirin
sekalian untuk menonaktifkan hpnya untuk sementara atau paling tidak silence
dulu ya. Agar pertunjukan kali ini berjalan dengan lancar. Cerita ini
berdasarkan sejarah yang saya dapat dari berbagai sumber baik buku di
perpustakaan maupun dari nara sumber lain selaku keturunannya.
Pada jaman dahulu di era kemerdekaan ada seorang Kyai, beliau adalah
Kyai Makmur. Beliau berasal dari
keluarga santri. Ayahnya bernama KH. Nawawi. Semasa muda beliau tekun menuntut ilmu agama dari pesantren ke pesantren, mulai dari
pondok pesanttren di Grobogan, Purwodadi, Solo dan yang terakhir di pondok
pesantren Tebuireng Jombang, Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh KH, Hasyim Asy’ari pendiri organisasi masyarakat
yaitu Nahdlatul Ulama’. Sepulang dari pondok pesantren Tebuireng beliau diperintah
oleh KH. Hasyim Asy’ari agar mendirikan pondok pesantren di Pemalang. Singkat
cerita beliau pun membuka pondok pesantren, para santri datang dari berbagai
daerah untuk menuntut ilmu agama.
Sebelum Kyai Makmur diangkat menjadi Bupati Pemalang, KH. Siraj mengundang
Kyai Makmur ke rumahnya. Sesampainya di rumah Kyai Siraj, Kyai Makmur bertanya
ada hal penting apa yang harus dibicarakan.
AKTOR MEMERANKAN BEBERAPA TOKOH DIDALAM NASKAH.
“Ada apa kang? Sepertinya ada suatu hal yang harus dibicarakan, sehingga
saya di
panggil ke ndalemnya njenengan”.
Tanya Kyai Makmur kepada Kyai Siraj.
“Begini.... ada suatu hal yang sangat mendesak yang harus aku bicarakan
kepadamu. (diam sesaat) Mengingat Raden
Tumenggung Rahardjo Suro Adi Kusumo & Patih Pemalang Raden Sumarto mereka
ditangkap oleh kawanan Belanda. Serta Supangat juga telah ditangkap oleh Tentara Keamanan Rakyat dan dijebloskan ke
penjara maka sudah saatnya kamulah yang harus maju untuk memimpin daerah ini untuk melindungi wargamu dari tentara Belanda”
“(Kyai Makmur mengangguk-angguk).
Mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban kita semua, sebagaimana
yang difatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari Kyai. Pada tanggal 22 oktober 1945
tentang resolusi jihad agar semua rakyat Indonesia tanpa terkecuali wajib
hukumnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk mempertahankan kemerdekaan
negara Indonesia tentu saja saya tanpa ragu akan menghadang para tentara-tentara
Belanda itu. Di pondok pesantren para santri tidak hanya mengaji mereka juga
berlatih ilmu kemiliteran. (diam sesaat)
tapi untuk menjadi bupati Pemalang saya harus mendapatkan restu dari keluarga
besar dan harus didukung oleh semua warga Pemalang. Ini adalah tanggung jawab
yang besar”.
“Tentu saja, hal itu harus dibicarakan dengan keluarga” Kata Kyai Siraj.
Tiba-tiba Kyai Nawawi Ayahanda Kyai Makmur datang.
“Aku setuju kamu harus memimpin Pemalang. Makmur.... Pemalang termasuk
wilayah Indonesia. Saat ini Pemalang membutuhkan sosok pemimpin yang tegas dan
pemberani, yang berjiwa ksatria dan pantang menyerah. Aku ayahmu, aku tahu
semua tentangmu dan aku tahu Pemalang membutuhkan pemimpin yang memiliki watak
sepertimu”.
Kyai Makmur pun mengangguk menyetujui setelah mendapat restu dari
Ayahandanya. Esoknya di alun-alun Pemalang, para warga sudah berkumpul padat
sambil menerikan “Hidup Kyai Makmur....hidup Kyai Makmur...hidup Kyai
Makmur...Kyai Makmur Bupati Pemalang....Kyai Makmur bupati Pemalang....Hidup
Kyai Makmur....” Kyai Makmur berpidato kepada warga tentang pentingnya rasa
nasionalisme, mempertahakan kemerdekaan Indonesia ada kewajiban semua orang
termasuk semua warga Pemalang. Lalu Romdhon adik Kyai Makmur datang.
“Kang mas...saya senang panjengan dipilih menjadi Bupati Pemalang, tetapi
tugas ini sangat berat, bukan sekedar menjadi Bupati tapi harus juga
bersiap-siap menghadapi tentara-tentara Belanda yang kembali datang membonceng
sekutu. Dalam agresi militer ke dua”
“Benar katamu Dimas” pungkas Kyai Makmur. “Oleh karena itulah aku
membutuhkan orang yang dapat aku percaya untuk menjalankan tugas berat ini, aku
membutuhkan kamu untuk menjalankan tugas suci ini”
“Siap kang mas” Jawab Romdhon dengan tegas.
Pada saat itu Nyai Samnah Istri
Kyai Makmur juga datang.
“Nyai...kenapa kamu kemari? Kamu sedang sakit, tidak perlu kamu datang
kemari”
“Aku ingin melihat langsung suamiku
dilantik menjadi Bupati Pemalang, pesanku bekerjalah dengan Ikhlas tanpa
pamrih, jangan mengharap imbalan apapun, tugas ini adalah tugas negara yang
harus kanda jalankan sepenuh hati” katanya terbata-bata.
Tidak lama setelah Nyai Samnah menyampaikan wasiatnya, Nyai Samnah
menghembuskan nafas terakhirnya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kyai Makmur
dalam keadaan berkabung.
“Baik Nyai...wasiatmu akan kanda jalankan sepenuh hati”
DI PONDOK PESANTREN. TERDENGAR SUARA
PARA SANTRI MENGAJI. KYAI MAKMUR SEDANG DI HALAMAN RUMAH. TIDAK LAMA KEMUDIAN TERDENNGAR
SUARA PESAWAT BELANDA MEMATA-MATAI WILAYAH PEMALANG.
Pesawat-pesawat Belanda itu sudah datang. Pesawat-pesawat itu pasti sedang
memata-matai daerah Pemalang. Itu artinya sebentar lagi perang akan meletus
antara warga Pemalang yang tergabung dalam laskar Hizbullah melawan para tentara Belanda. Benar
saja tebakanku, para warga ketakutan. Murah datang tergopoh-gopoh
“Duh Pak kyai....tentara-tentara Belanda sudah datang, mereka membawa
senjata canggih, juga menaiki kendaraan-kendaraan tempur, Pak Kyai sebaiknya
segera pergi menyelematkan diri”
“Di mana mereka?”
“Di Pendopo Kyai, Monggo Kyai....sebaiknya pergi saja sebelum para tentara
Belanda itu menemukan Pak Kyai”
SUARA TEMBAKAN DAN KECAMUK PERANG MAKIN MENGGILA.
“Ora mungkin....ora mungkin aku ninggalke medan perang”
Tidak lama kemudian Masduki seorang pemimpin regu laskar Hizbullah datang
sambil membawa bambu runcing.
“Kyai...Kyai....banyak pejuang Hizbullah yang gugur....perang sedang
terjadi dibeberapa tempat”
“Siapa saja yang gugur Pak Masduki?”
“Tamnin....Amnan dan Irsyad mereka sudah gugur Kyai” Katanya sambil
terengah-engah.
“Kurang
Ajar.!!! Belanda Kurang Ajar.! Berani-beraninya mereka menjajah Bangsa ini.
Kita tidak bisa diam saja, Kang. Kita harus sigap” Begitu Romdhon menimpali.
“
Tenang. Kita harus mengatur rencana yang matang agar siap menghadapi mereka.
Pak Masduki, biar saya di rumah dulu, nanti saya kesana. Saya sanggup mati demi
memperjuangkan kemerdekaan. Tolong siapkan pasukan militer. Panjenengan jangan
lupa untuk berhati-hati”.
“Inggih
Pak Kiai leres” Jawab Masduki.
Suasana makin kacau, pada saat Romdhon dan Kyai Makmur mengatur strategi,
tiba-tiba pasukan Belanda datang. Dari luar rumah terdengar suara pistol,
mereka berteriak-teriak memanggil nama Kyai Makmur.
“Makmur...Makmur....cepat kamu keluar....Makmur....”
Tidak lama kemudian para tentara Belanda itu mendobrak pintu rumah Kyai
Makmur.
“Kurang ajar kalian, berani-beraninya kalian membuat kekacauan di wilayahku” Kata Kyai Makmur.
“Begini Kyai Makmur....”Jawab komandan tentara Belanda. “Ik datang kesini
mau menawarkan perdamaian kepada kamu orang. Kamu orang sebagai pemimpin pasti
bisa membuat keputusan agar perang ini bisa dihentikan”
“Perdamaian? Perdamaian bagaimana yang kalian maksud?” tanya Kyai Makmur
kepada tentara Belanda.
“Begini...Ik ingin kamu orang, sebagai Bupati Pemalang tunduk kepada
Pemerintah Belanda”
“Tidak mungkin! Tidak mungkin saya tunduk kepada Pemerintah Belanda.
Indonesia sudah merdeka, dengarkan apa
yang saya omongkan ini.
“Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati- satu sentuhan kening, satu jari luas-nya bumi bertaruh
nyawa. Kemerdekaan Indonesia tidak bisa ditawar, Kemerdekaan
Indonesia akan kami pertahankan hingga titik darah penghabisan”.
Mendengar jawaban itu komandan tentara
Belanda marah.
“Bawa mereka berdua” perintah
komandan tentara Belanda kepada anak
buahnya. Kyai Makmur dan Romdhon dibawa dengan paksa oleh tentara Belanda.
Hingga sampai diarea pinggir jalan area persawahan.
Di kejauhan seorang angon menyaksikan
peristiwa ini. Angin mendesir seolah berpesan kepada mereka berdua, tidak ada
yang perlu ditakuti dari para penjajah.
SUASANA HENING. AKTOR MEMBELAKANGI
PANGGUNG. SUARA KOMANDAN TENTARA BELANDA MEMBERIKAN PERINTAH.
“Tembaaaaaaak”
TERDENGAR SUARA SENAPAN DUA KALI. AKTOR
KEMBALI MEMERANKAN KYAI MAKMUR. DADANYA DITEMBAK DAN BERDARAH.
“Allahu Akbar....Merdeka”.
KYAI MAKMUR TERJATUH. SUARA BIOLA
MENGIRINGI LAGU GUGUR BUNGA. LAMPU PADAM.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar