PUISI SUMPAH
Oleh: Ahmad Bukhori
Puisiku adalah pedang bermata dua,
tajam mengecam, mengancam,
kan mencincang-cincang.
nanar melihat,
membabat!
Aku bukan samurai,
tapi memiliki jiwa.
puisiku adalah benda-benda:
batu, kayu, api, air atau apa saja.
Adalah puisiku:
kuda, kereta dan kujang,
maju, menghantam dan menerjang.
menyimpan dendam, amarah dan kutukan,
‘kan menghujam hingga binasa.
Tidurku menayuh keris,
teman hati yang teriris,
kugenggam dimalam gerimis,
dan tongkatku adalah tombak,
kawan di jalan penolak balak.
Puisiku adalah segala,
tersimpan rapi di dalam jiwa,
bagai badai bara membara,
musnahlah! musnah! musnah!
Pemalang, 8 Maret 2025
SEMAR SUPER SAMAR
Oleh: Ahmad Bukhori
Supersemar,
bayang-bayangmu begitu samar,
kesaktianmu dongeng dibalik layar,
suratmu terbawa angin entah kemana,
semua hilang samar-samar.
Gunung emas kau telan ke dalam perut,
senyummu membius para punggawa dan jelata,
dudukmu terlalu lama,
ajianmu palsu belaka, pun bunyi kentutmu;
"Surat Perintah Sebelas Maret."
terngiang-ngiang hilang.
Aku menutup hidung,
kentutmu tak memberikan kesadaran,
jelas bukan ajian,
super samar bukan super semar.
Dan telunjuk jarimu adalah pistol menodong,
sebelas surat semuanya cek kosong,
surat apa? untuk siapa?
sebelas maret entah dimana,
inilah sejarah berbau kentut,
semua tertipu, luka-luka merenggut.
11 Maret 2025
MAWAR
Oleh: Ahmad Bukhori
Ada mawar dibalik kuasamu,
sang penebar aroma kematian,
tumbuh mekar di atas anyir jasad korban,
dan tulang belulang remuk dihaluskan,
menyelinap, senyap di sudut gelap lenyap.
Merahmu darah mereka mengalir kelam,
hitam merayap di rahasia malam,
durimu kawat kuat jadi penghalang,
tangkai besi melindungi tirani,
kelopakmu daya tarik sang awam,
dibalik itu menyebar benih-benih ketakutan.
Kau tumbuh tinggi berduri,
berdiri di puncak singgasana kini,
kau tak terjangkau pedang Justitia,
siapa berani kan susul bersama mereka,
dan penyair yang hilang.
Pemalang, 13 Maret 2025
NEGARA TANPA CAHAYA
Oleh: Ahmad Bukhori
Seekor laba-laba merajut sarang di istana,
di sudut-sudut gelap dan di kolong-kolong meja,
jaringnya menangkap cahaya,
tanah air menjadi hitam pekat.
Seseorang muncul dari lorong kelam,
diiringi alunan gending jawa dari CD bajakan,
setelah menang taruhan dengan banyak suara,
lalu mengkultuskan diri sebagai raja Jawa,
taktik jitu menundukkan penduduk ratusan juta jiwa.
Langkahnya optimis, aura terpancar licik,
kerabat dekat dijadikan pejabat,
kroni-kroni duduk di kursi empuk,
dan jaringan pun terbentuk,
tak peduli tiang penyangga bangsa kian rapuh.
Semua duduk di kursi,
dan tangan- tangan bekerja di bawah meja,
sibuk membangun citra, merubah aturan,
kronisme membuat negeri semakin kronis,
barisan penganggur harapannya tergusur.
Perlahan wajah kroni dan famili berubah,
gigi-gigi tajam dan rahang membesar seperti rayap,
menggerogoti semua laci besi hingga keropos,
saling melindungi,
tak peduli ratap rakyat yang semakin kuat.
Mereka terus bekerja dalam jaringan,
ada muka-muka tikus,
mencuri hak rakyat dengan rakus,
berlompatan berkejaran menari-nari di lemari besi ,
menggerogoti isi dompet negara tak tersisa,
Kawanan kleptokrasi menyerang institusi,
sementara muka-muka terluka,
menggenggam amarah,
duka.
Dari CD bajakan gending Jawa kembali mengalun,
seolah negara ini miliknya,
puluhan triliunan rupiah tak berjejak,
seperti janji bergunung-gunung tertutup kabut,
rakyat kecewa,
terjebak janji-janji manis mulut buaya,
di arus sungai dusta.
Di pagi buta usai hujan di ibu kota,
ular besar memanjang menggeliat melilit lembaga,
dari Sabang sampai Merauke,
dari pulau Miangas hingga pulau Rote,
taringnya tajam menyeringai,
digerbang istana mulutnya menganga,
ekornya di ujung desa jauh paling terpencil.
Jaring-jaring kian membesar dan lengket,
seseorang mewariskan bayangan gelap,
menempel lekat di sudut-sudut,
tukang sapu, sapunya patah,
tak sanggup mendorong sampah.
Orang-orang tanpa nama protes,
merapalkan doa dengan cara mereka;
"kami berbaris melawan, dengan tangan gemetar,
keris, pedang, tombak dan panah menjadi azimat,
atau
hadirkan pagi lebih pagi, untuk menyingkap gelap,
agar bangsa ini terang benderang kembali."
Pemalang, 18 Maret
2025
AIR-AIR TERSESAT
Karya: Ahmad Bukhori
Air-air tersesat tak juga pulang-pulang,
di rumah-rumah, sawah-sawah dan ladang-ladang,
orang-orang desa mengenang masa gemilang,
tentang udang yang dieksport ke negeri seberang.
Kini, lain cerita siang
dan malam,
tak ada panen padi semua terendam,
ikan-ikan hanyut kabur nasib tenggelam,
terkubur air rob membawa kelam.
Tak ada hangat api batu bata,
hilang-lenyap-musnah segala,
binasa harta dan jiwa,
kami ingin berdamai sudah.
(REFF- Sunyi pelan seperti malam di tengah rawa)
Di lipatan malam para sesepuh berdo’a;
“Pulanglah.. sudah berkali lipat senja,
kami sudah tak punya apa-apa,
bawalah pergi pemandangan sehari-hari ini,
agar esok cerita lebih indah kembali."
(Ending pelan penuh harap)
Air laut asin naik seperti tersesat,
pulanglah segera ke segara,
bawalah rasa susah kami,
ke ombak-ombak padang air rumahmu.
Agar anak sekolah,
tak lagi belajar di genangan air asin,
agar petani tak lagi menatap air,
dan nelayan tak lagi menatap langit,
agar hidup kami tak lagi serba sulit.
(Outro-suara camar dan angin)
Pemalang,
25 februaari 2025
ROB
Karya: Ahmad Bukhori
Di sini desa-desa terendam air payau
Tapi yang kau pagari laut Tangerang hingga Banten
Rawa-rawa disini dulunya sawah
Tapi kau babat hutan untuk mencetak sawah
Di sini dulu tambak-tambak berkualias tinggi
Ikan dan udang kami eksport ke luar negeri
Di sini dulu penuh kebun melati mewangi
Tapi kini sudah mati
Kenapa tak kau manfaatkan yang ada?
Kenapa kau suka mengada-ada?
Untuk menjadi kelas berada.
Di atas derita-derita.
Pemalang 28 Februari 2025
DAN ANTARA
Karya: Ahmad Bukhori
Krek...krek...klik...
Umpan dana besar,
akan mendapatkan koruptor besar,
umpan dana kecil,
akan mendapatkan koruptor kecil.
Duk...duk...duk...
Dan antara mereka menipu,
dan antara mereka menyalah gunakan kuasa,
dan antara mereka menyimpan rahasia,
dan antara mereka main mata.
Duk...duk...duk...
Dan antara mereka menjilat,
dan antara mereka menyuap,
dan antara mereka bersekongkol,
dan antara mereka tertawa menang.
Duk...duk...duk...
Dan antara mereka mengutil,
dan antara mereka menjarah,
dan antara mereka merampok,
dan antara mereka berpesta.
Duk...duk...duk...
Dan antara mereka korupsi,
dan antara mereka kolusi,
dan antara mereka nepotisme,
dan antara mereka kleptokrat.
Pemalang, 1 maret 2025
KITA BIDAK-BIDAK CATUR
Karya: Ahmad Bukhori
Kita hidup bernegara,
Seperti bermain diatas papan catur,
Semua posisi dan langkah sudah diatur,
Permainan yang tidak melulu menang kalah,
Tapi ada harapan jika tidak mungkin menang,
Setidak-tidaknya tidak kalah.
Pion digaris depan maju adalah kamu
Benteng lurus menghatam adalah keamanan
Kuda perang melompat menerjang adalah yudikatif
Peluncur meluncur membidik adalah legislatif
Ster kuat memukul seperti benteng dan peluncur adalah
eksekutif
Raja target utama juga harus dilindungi adalah
korporasi
Pemalang, 26 Februari 2025
BIDAK-BIDAK BICARA
Karya: Ahmad Bukhori
Tak...
Aku adalah pion bergerak maju,
pantang mundur meski hancur lebur,
di atas papan berada, berkata;
“Aku di garis depan menembus garis belakang lawan.”
Zab...
Aku adalah benteng kokoh sekokoh gunung,
menghantam menyerang memukul lurus, berkata;
“Akulah pagar yang kuat dililit berduri penghalang
lawan,
siapapun lawan menghadang di depan akan kuhantam.”
Tuk-tak-tuk-tak...
Aku adalah kuda perang,
meringkik melompat menerjang lawan tak terduga,
berkata;
“Akulah kuda Troya yang memberi kejutan pada setiap
lawan,
dengan sekali sepakan delapan musuh terancam
terjungkal.”
Zheb...
Akulah gajah melangkah meluncur,
menyeruduk menginjak lawan, berkata;
“Aku kuat penunggangku menyerang memanah
atau melempar lembing dari sudut tersembunyi.”
Dom-dom...
Aku adalah menteri langkahku kuat,
seperti benteng dan gajah dan berkata;
“Akulah yang paling ditakuti musuh,
pukulanku seperti palu godam,
meruntuhkan pertahanan lawan dalam sekali hempasan.”
Tap...
Dan akulah raja melangkah setapak demi setapak,
bertutur kata bijak dan bertindak, berkata;
“Janganlah gegabah dalam melangkah,
setiap perkataan adalah ketetapan,
dan tak dapat ditarik kembali.”
Pemalang, 21 Februari 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar