Jumat, 07 Maret 2025

Naskah Teater Remaja WIDURI

 

WIDURI

Karya: Ahmad Bukhori, S.Sn.

(Dari cerita rakyat Pemalang)

Tokoh : 1. Nyai Widuri  -Perempuan Cantik - Usia 20 Tahun –Istri Ki Pedaringan

              2. Ki Pedaringan, -Laki-laki -Usia 50 tahun -Petani -Suami Nyai Widuri

3. Pangeran Purbaya, -Laki-laki tampan -Usia 25 tahun – Pangeran Mataram 

4. Beberapa Penduduk                   

BABAK I

SEAKITAR EMPAT ABAD SILAM. DI WILAYAH PEMALANG SEBELAH UTARA MASIH BANYAK HUTAN DAN RAWA.  HIDUPLAH SEPASANG SUAMI ISTRI KI PEDARINGAN DAN NYAI WIDURI.MEREKA MENJALANI HIDUP DENGAN BAHAGIA. KI PEDARINGAN TERMASUK ORANG YANG CUKUP ULET MENGOLAH TANAH YANG KURANG SUBUR DIBANDINGKAN WARGA LAINNYA YANG LEBIH MEMILIH PINDAH TEMPAT TINGGAL. KARENA KETEKUNAN KI PEDARINGAN LAMBAT LAUN TANAH TERSEBUT MENJADI SUBUR.

PAGI ITU. DI RUMAH KI PEDARINGAN TAMPAK TENANG. BEBERAPA PERABOTAN MENUNJUKAN ORANG YANG SEDERHANA. NYAI WIDURI SEDANG MEMPERSIAPKAN SARAPAN UNTUK SUAMINYA DAN DIRINYA SENDIRI. DI ATAS MEJA MAKAN BEBERAPA MAKANAN SEPERTI SINGKONG DAN UBI BERADA DIATAS PIRING YANG TERBUAT DARI TANAH. SEMENTARA NASI DIDALAM CETING YANG TERBUAT DARI ANYAMAN BAMBU. TERDAPAT JUGA KENDI YAG TERBUAT DARI TANAH DIPENUHI AIR. BEBERAPA GELAS TERBUAT DARI TANAH/BAMBU JUGA ADA DI SEAKITARNYA.TERDENGAR SUARA AYAM JANTAN BERKOKOK, ENTOK, BEBEK, DAN JUGA KAMBING. PERLAHAN-LAHAN SUARA ITU TENGGELAM.

Nyai Widuri    : (Sambil mempersiapkan makanan untuk sarapan, dari wajahnya tampak senang). Binatang-binatang itu sangat menghiburku. Aku tidak pernah merasa kesepian, suara binatang-binatang ini menjadi teman saat suamiku pergi ke ladang. Terkadang aku berbicara dengan mereka mesAkipun binatang-binatang peliharaan itu tidak mengerti apa yang aku katakan.

Ki Pedaringan : (Dari dalam Ki Pedaringan masuk) Kamu seorang perempuan yang rajin. Setiap pagi seperti ini kamu mempersiapkan sarapan untukku. Pagi-pagi buta kamu sudah memasak makanan atau merebus air. Sambil menunggu semuanya matang kamu menyapu ruangan...ealah...alangkah beruntungnya aku ini. Menjadi suami dari perempuan cantik yang dulu diidolakan banyak laki-laki, dan ahirnya menjadi milikku. (melirik ke arah Nyai Widuri).

Nyai Widuri    : (Tersipu malu) Ah...Aki  bisa saja, pagi-pagi sudah merayu. Tentu saja ini semua saya lakukan karena saya ini istri yang memang seharusnya melakukan kewajiban seorang istri kepada suami.

Ki Pedaringan : Tetapi aku lihat kamu melakukannya bukan sekedar untuk menjalankan kewajiban. Kamu benar-benar seorang istri yang selama ini aku impi-impikan. (Diam. Nyai Widuri tersipu malu) kalau dulu sebelum menikah, setiap pergi ke ladang atau sawah aku selalu pulang ke rumah pada sore atau malam hari. Dan terkadang juga aku menginap digubug yang aku buat diladang, baru aku pulang pada esok harinya.

Nyai Widuri    : (Memotong) Sejak dulu aki memang laki-laki yang sabar, ulet, jujur, dan dewasa. Atas pertimbangan itulah aku bersedia menerima lamaran aki. Coba perempuan  mana yang tidak memimpikan laki-laki seperti aki? Dewasa dan penuh pengertian.

Ki Pedaringan : (tertawa bangga)Hahaha...kamu ini bisa saja, bukankah manusia hidup untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan itu yang semestinya dilakukan setiap orang. Apalagi aku laki-laki, jadi jauh-jauh hari memang harus aku persiapkan sebelum berkeluarga  (Diam) Nyai Widuri, hidup memang harus nariman ing pandum, tapi kalau kita diam saja dan tidak berbuat apa-apa alam tidak akan bersahabat dan tetap ganas dan kita sebagai manusi yang diberikan akal dan budi sudah semestinyalah bebuat sesuatu supaya kelak dapat diwariskan kepada anak cucu. (Diam. Memandang wajah Nyai Pedaringan)Kamu cantik Nyai, selain itu kamu juga penyabar dan tekun. Laki-laki mana yang tidak berharap menjadi pendamping hidupmu? (diam) Selain tugas seorang istri melayani kebutuhan seorang suami, seorang istri juga semestinya harus bisa menjaga harta suaminya, agar kelak keturunannya tidak selalu merasa khawatir untuk bisa makan apa, dan terbukti kamu bisa melakukan itu semua. Nyai bisa dipercaya.

Nyai Widuri    : Ora ono dino ora ono upo ki....dan sekarang Aki sudah membuktikannya. Sawah ladang luas. Binatang ternak pun banyak. Sekarang semua yang aki impikan sudah dimiliki. Aki tidak perlu lagi menghabiskan seluruh waktu aki ditengah sawah atau ladang. Alon-alon waton klakon Kang... jaga kesehatan itu yang lebih utama.

Ki Pedaringan : (Termanggut-manggut) Iya iya.....karena itulah sekarang aku bekerja di ladang atau sawah cukup setengah hari saja. Tetapi alasan yang sebenarnya karena dirumah sudah ada perempuan cantik yang menyambut aku dengan senyuman dan seketika itu pula rasa lelah langsung hilang,  rasanya sudah tidak kuat menahan rindu, meski baru setengah hari di ladang.

Nyai Widuri    : Tuh kan... Aki merayu lagi. Sudahlah...jangan merayu terus. Aku senang bisa menjadi suami Aki. Aku hanya ingin berbakti kepada Aki. Setiap kali Aki pergi bercocok tanam, selain menyiapkan makan siang, Aku juga merawat binatang ternak, memberi makan, membersihkan kandang dan itu membuat aku senang karena aku  tidak merasa sepi. Rumah tetangga jauh jaraknya, dalam sehari belum tentu bertemu dengan orang lain selain aki. 

Ki Pedaringan : Desa ini dulu adalah tempat yang tidak subur. Para warga yang mencoba membuka lahan untuk bercocok tanam memilih berpindah tempat tinggal. Mereka tidak tahan dengan serangan babi hutan dan mereka juga tidak sabar megolah tanah yang tidak subur, rawa-rawa yang dihuni banyak ular. (menghela nafas)Seandainya mereka tetap sabar dan telaten, pastilah desa ini sekarang menjadi pemuAkiman penduduk yang ramai. (Nyai Widuri mendengarkan cerita Ki Pedaringan)Pernah suatu ketika seorang warga yang sedang membuka lahan tiba-tiba diseruduk babi hutan, terluka cukup parah tepat dibagian pahanya sampai-sampai tulangnya terlihat putih, darahnya bercucuran. Untungnya aku berada tidak jauh dari kejadian itu. Anjing-anjing segera mengeroyok babi hutan itu dan luka orang itu segera aku obati, mula-mula aku bersihkan luka orang itu lalu aku tutup dengan ramuan dedaunan. setelah aku ikat dengan kain agar darahnya tidak terus keluar. (Kepada Nyi Nyai Widuri)Nyai Widuri...alam menyediakan segalanya, kalau Akita dapat memanfaatkannya dengan baik ia akan memberikan apa saja yang Akita butuhkan. Oleh karena itu kamu mesti belajar banyak bukan hanya dalam hal memelihara binatang tetapi juga dalam hal pengobatan karena suatu saat pasti dibutuhkan. Selain bermanfaat untuk diri Akita sendiri Akita juga dapat menolong orang lain yang membutuhkannya.

Nyai Widuri    : Iya, Aki sudah mengajari Nyai dalam banyak hal. Mulai dari beternak binatang sampai dalam hal pengobatan.

Ki Pedaringan : Pernah juga ada yang tiba-tiba dililit ular besar ketika sedang masuk ke dalam rawa untuk menangkap ikan. Yah...kontan saja mereka memilih pindah tempat tinggal,memilih tempat tinggal yang lebih aman dan juga lebih subur untuk ditanami palawija atau lainnya. Sebagian dari mereka juga ada yang beranggapan tempat ini angker, dihuni banyak makhluk halus atau jin karena itu pula mereka memilih untuk pindah tempat tinggal. (menatap jauh) tetapi sekarang sebagian dari mereka kembali ke tempat ini setelah mereka melihat apa yang aku usahakan selama ini telah membuahkan hasil. Kesadaran mereka mulai terbuka. Kesadaran untuk mengolah tanah sehingga manusia dapat hidup selaras dengan alam.(Nyai Widuri mendengarkan cerita Ki Pedaringan). Dan dengan demiAkian kami bisa saling bahu membahu, bergotong royong dengan warga lain untuk mengerjakan hal-hal yang dirasa berat karena untuk kepentingan bersama. Membuat jalan untuk mempermudah menghubungkan dusun ini dengan dusun disebelah, salah satu manfaatnya Akita bisa menjual hasil ternak  mesAkipun kecil-kecilan  juga hasil panen, karena dapat mempermudah tengkulak untuk datang ke dusun ini. Rawa-rawa ditimbun dengan tanah lalu dijadikan area persawahan. Sebagian sisanya diubah menjadi tambak untuk memelihara ikan. Selain mengandalkan air hujan untuk mengairi sawah, aku dan warga yang lain juga membuat bendungan disungai untuk mengairi sawah. Sementara tanah yang berada di dataran lebih tinggi dijadikan ladang untuk ditanami singkong atau lainnya. (Menghela nafas) iya....itu semua adalah keinginan bersama untuk mengubah tempat yang tadinya tidak bisa dijadikan tempat tinggal menjadi tempat yang bisa ditinggali. Menjadi tempat yang bisa ditanami untuk mencari nafkah.

Nyai Widuri    : Aki sangat ulet dalam bekerja. Sampai-sampai....(kalimatnya terhenti)e....

Ki Pedaringan : Sampai-sampai apa? (tanyanya dengan lembut) sampai-sampai aku terlambat menikah? Kalau saja aku tidak bertemu dengan gadis cantik sepertimu,mungkin sekarang aku belum menikah, dan lagi teman-temanku sering bilang padaku setiap kali aku bicara tentangmu. Kata mereka(menirukan cara bicara  temannya) “cepatlah menikah...jangan lama-lama, nanti keburu diduluin orang lain loh...”

Nyai Widuri    : (menyindir) Oh...jadi Aki menikahi saya karena desakan dari teman-teman Aki. Bukan kemauan dari hati Aki sendiri...

Ki Pedaringan : Tidak...tidak seperti itu....menikah ya jelas kemauan diri sendiri, Tapi kan semuanya butuh persiapan yang matang. Harus siap sandang, pangan dan  papan untuk keluarga yang akan dibina nantinya. Supaya anak-anak yang dilahirkan dari rahim istriku tidak mengalami kesusahan karena itu semua.

Nyai Widuri    :(menerawang, memegang perut) tiap malam aku selalu berdo’a pada Yang Maha Kuasa supaya Akita segera dikarunia momongan. (diam sejenak)hari sudah hampir siang Kang...matahari sebentar lagi terbit.

Ki Pedaringan : Oh iya, aku segera berangkat ke ladang. Jaga dirimu dirumah baik-baik.

NYAI WIDURI MEMPERSIAPKAN BEKAL UNTUK AKI  PEDARINGAN. SEBUAH TEMPAT AIR MINUM TERBUAT DARI BAMBU DAN BEBERAPA UBI REBUS DIBUNGKUS DIATAS DAUN JATI ATAU DAUN PISANG. KI PEDARINGAN BERSIAP-SIAP BERANGKAT KE LADANG.

Nyai Widuri    : Aki, Ini bekalnya.

Ki Pedaringan : Terimakasih, (Sambil bercanda ringan) seperti biasa...tengah hari nanti aku pulang.

Nyai Widuri    : Iya. Hati-hati dijalan ya ki...

Ki Pedaringan : Iya.

KI PEDARINGAN MELANGKAH PERGI. NYAI WIDURI MENATAP KEPERGIAN KI PEDARINGAN SAMPAI JAUH HINGGA BAYANGANNYA HILANG DIBALIK RERIMBUNAN POHON. LAMPU FADE OUT.

BABAK II

LAMPU FADE IN. SIANG HARI. DIRUMAH KI PEDARINGAN. NYAI WIDURI SENDIRIAN SEDANG MENANAK NASI DIATAS KENDIL. DI TUNGKU API MENYALA DARI KAYU SESEKALI API REDUP, NYAI WIDURI MENIUP KEMBALI MENGGUNAKAN SEMPRONG (POTONGAN BAMBU) MEMPERSIAPKAN UNTUK MAKAN SIANG.TIBA-TIBA SUARA ANGSA PELIHARAANNYA MELENGAKING-LENGAKING.

Nyai Widuri    : (Bicara sendiri) Aneh... Ada apa ya? Kok tiba-tiba suara angsa melengAking-lengAking sepert itu. Biasanya kalau seperti ini ada orang asing. (diam sejenak)Angsa-angsa itupenjaga rumah yang jeli.(Berbicara ke luar, agak berteriak)ada apa ribut-ribut? Tak ada yang ganggu bukan? (Bicara sendiri) tak ada jawaban, jangan-jangan ada  ular, anjing liar atau binatag liar lainnya. (ia semaAkin penasaranmengambil sikap hati-hati, sesekali melongok ke luar-lalu hedak melangkah keluar).Siapa di luar?

Suara               : (KesaAkitan)Tolong...tolong saya....

SEORANG PEMUDA BERPERAWAKAN TINGGI BESAR, BERDADA BIDANG DAN TAMPAN MASUK. DARI PAKAIANNYA TAMPAK BAHWA ADALAH SEORANG PRAJURIT MATARAM. CARA BICARANYA SOPAN. NYAI WIDURI MERASA TAKJUB MELIHATNYA. TAPI CEPAT IA SADARI BAHWA IA ADALAH SEORANG ISTRI KI PEDARINGAN. TUBUHNYA PENUH LUKA AAKIBAT PEPERANGAN. NAMPAK BEBERAPA LUKA SABETAN PEDANG. DI PINGGANGNYA TERSELIP SEBILAH KERIS.

Nyai Widuri    : (Kaget dan Gugup) Duh Gusti...Panjenengan siapa?

Pangeran Purbaya : (Sesekali mengerang kesaAkitan)Maafkan aku telah mengganggumu. Jangan kaget aku prajurit Mataram, sedang menumpas para pemberontak, Salingsingan dari Cirebon. Aku butuh bantuanmu.

Nyai Widuri    : (Gemeteran) Ta...tapi apa yang bisa kubantu? Lagipula laAkiku sedang jauh

P. Purbaya       :Percayalah aku orang baik, aku tidak akan berbuat jahat kepadamu. Namaku Purbaya. Pangeran Pubaya dari  Mataram.

NYAI WIDURI SEMAAKIN TERSENTAK KAGET HAMPIR TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG DI DENGAR. NYAI WIDURI SEGERA MENUNDUKAN MUKA.

P. Purbaya : Tolong beri aku makan dan minum seadanya. Obati luka-lukaku. Tugasku masih banyak.(sesekali mengerang merasa kesaAkitan).

NYAI WIDURI BERTAMBAH GUGUP. TETAPI IA MERASA SENANG MENJAMU TAMUNYA. BURU-BURU KE BELAKANG MENGAMBIL AIR MINUM LALU DENGAN CEPAT MEMOTONG BUAH SEMANGKA DAN MENYUGUHKAN SINGKONG REBUS

Nyai Widuri    : (Menuangkan air minum lalu diberikan kepada Pangeran Purbaya juga menyuguh semangka dan makanan) Ampun Pangeran, silahkan diminum. Ini ada semangka dan makanan silahkan dicicipi pangeran.

P. Purbaya       : (P.Purbaya meminum air yang diberikan  Nyai Widuri) Terimakasih... (lalu memakan semangka dan singkong rebus).

Nyai Widuri    : Luka pangeran sangat parah, kalau tidak segera diobati bisa bertambah parah. 

P. Purbaya       : Tolong obati segera obati luka-lukaku.

Nyai Widuri    : Hamba dapat mengobati luka, suami hamba mengajari hamba cara-cara pengobatan. Biarkan hamba membersihkan luka pangeran dengan air hangat terlebih dahulu.

P.Purbaya        : Ya..silahkan.

NYAI WIDURI MEMPERSIAPKAN AIR HANGAT KEMUDIAN DENGAN AGAK GUGUP NYAI WIDURI MEMBASUH LUKA P. PURBAYA DENGAN AIR. P. PURBAYA MERINTIH MENAHAN SAAKIT

NYAI WIDURI MERAMU OBAT-OBATAN. MENUMBUK DEDAUNAN DAN REMPAH-REMPAH DIJADIKAN SATU.

Nyai Widuri    : (Sambil Meramu obat-obatan) Sepertinya berat sekali menjadi seorang prajurit, harus berani mempertaruhkan nyawa dalam menjalankan tugas negara.

P. Purbaya       :Yah, begitulah. Tapi bagiku menjalankan tugas ini adalah suatu kebanggan sekaligus sebuah kehormatan. Seandanya di negara ini tidak selalu terjadi pergolakan, pastilah Mataram dapat dengan mudah mendapatkan kejayaannya, seperti pada jaman keemasan Majapahit dahulu. Semua rakyat menjadapatkan rasa aman ketika mereka mencari nafkah. Baik ketika sedang bertani ataupun ketika sedang melaut  mencari ikan.

Nyai Widuri    : Ampun Pangeran, benar apa yang anda katakan. Kalau keadaan aman, maka bagi kami  akan mudah dalam bekerja. Sehingga kami dapat tepat waktu membayar pajak ke kadipaten.

P.Purbaya        : Nah, dari situ jugalah sebenarnya negara dapat membagun apa saja yang dibutuhkan oleh rakyatnya, baik jalan, pengairan atau pun yang lainnya. Untuk melakukan semua itu, tidak mungAkin dapat terlaksana tanpa adanya rasa aman yang didapatkan oleh semua rakyat.

Nyai Widuri    : Lalu sebetulnya, apa yang diinginkan oleh para perusuh itu? kenapa mereka melakukan kerusuhan dimana-mana?

P. Purbaya       : Mereka hanya sibuk memiAkirkan bagaimana merebut kekuasaan. Para perusuh itu sibuk menebar pengaruh kepada rakyat supaya rakyat mendukung apa yang mereka rencanakan. Lalu bagi rakyat yang tidak mendukung rencana mereka, para perusuh itu akan terus meneror dan mengancam rakyat supaya mendukung rencana mereka, dan pada saat itulah negara menugaskan kepada kami selaku prajurit untuk menumpas gerombolan perusuh itu supaya terwujud rasa aman bagi seluruh rakyat Mataram dimanapun berada.

Nyai Widuri    : Ampun Pangeran. Mulia sekali tugas seorang prajurit, rela mengorbankan nyawanya demi kami rakyat kecil seperti kami dalam memberikan rasa aman. Bahkan Pangeran sendiri pun sampai harus terluka parah. (selesai meramu obat-obatan) ramuannya sudah siap. Hamba harus menempelkan ramuan ini dibadan Pangeran yang teruka, supaya darah tidak terus keluar karena dapat menjadi koreng, bernanah lalu menjalar kemana-mana.

P. Purbaya       : Ya...silahkan.

NYAI WIDURI MENEMPELKAN RAMUAN DIDADA PANGERAN PURBAYA YANG TERLUKA, NYAI WIDURI GUGUP DAN GEMETERAN. P. PURBAYA MENAHAN SAAKIT

Nyai Widuri    : Sudah Pangeran. Bagaimana sekarang rasanya pangeran?

P. Purbaya       : Iya. Sekarang rasanya sudah lebih baik.

Nyai Widuri    : Syukurlah....semoga ramuan buatan saya dapat segera menyembuhkan luka-luka yang ada dibadan pangeran.  Saya senang sekali dapat mengobati luka-luka yang pangeran alami.

P. Purbaya       : Siapa yang mengajarimu ilmu pengobatan?

Nyai Widuri    : Ampun...yang mengajari ilmu pengobatan kepada hamba suami hamba sendiri, dia mengajarkan kepada hamba tentang banyak hal. Mulai dari bercocok tanam, berternak hingga ilmu pengobatan, katanya ilmu pengobatan itu sangat penting bagi Akita semua karena selain berguna untuk diri sendiri juga dapat berguna untuk orang yang membutuhan perotolongan.

P. Purbaya : (Manggut-manggut) Iya...iya....baiklah, terimakasih atas semuanya, masih banyak tugas yang harus segera diselesaikan. Oh ya...namamu siapa? Dari tadi saya minta tolong tapi tidak tahu namamu.

Nyai Widuri    : Ampun pangeran. Nama hamba Nyai Widuri.

P. Purbaya       : Nyai Widuri....aku harus melanjutkan perjalanan. Masih banyak tugas yang haus aku selesaikan. Aku pamit dulu.

Nyai Widuri    :Tapi alangkah baiknya kalau pangeran bersedia menunggu suami hamba pulang dari ladang. Ini demi kebaikan semua supaya tidak terjadi fitnah kalau-kalau ada yang melihat pangeran berada dirumah ini. Sebab bagaimana pun juga sebenarnya tidak baik seorang istri memasukan laAki-laAki lain kedalam rumah tanpa sepengetahuan suaminya.  Jadi lebih baik saya perkenalkan secara terus terang pangeran kepada suami hamba.

P. Purbaya       : Baiklah akan aku tunggu sebentar.

Nyai Widuri    : Terimakasih atas pengertiannya pangeran...ini demi kebaikan bersama. (P.Purbaya duduk menunggu).

NYAI WIDURI TAMPAK RESAH MENUNGGU SUAMINYA YANG TAK KUNJUNG DATANG. IA MELIHAT KEARAH MAKANAN DAN MINUMAN LALU MELETAKKAN SEMUA MAKANAN DIATAS DAUN DAN MEMBUNGKUSNYA DI SELEMBAR KAIN. NYAI WIDURI PUN MENUANGKAN AIR MINUMAN KE BAMBU UNTUK TEMPAT MINUMAN.

P.Purbaya        : (Kepada Nyai Widuri) sepertinya laAkimu masih lama datangnya. Lebih baik saya segera pergi karena masih ada tugas penting yang harus segera diselesaikan. Aku diburu waktu.

Nyai Widuri    :Ampun pangeran, biasanya suami hamba sebentar lagi pulang. Hamba mohon, tunggu sebentar saja, sekali lagi ini demi kebaikan bersama.

PANGERAN PURBAYA MENUNJUKAN KERIS SIMANGKLAN

P. Purbaya       : Kamu tidak usah khawatir. (Diam sejenak berpiAkir, lalu P.Purbaya memberikan keris simangklan beserta warangkanya) keris simangklan ini aku titipkan padamu, biarkan keris simangklan ini menjadi saksitentang keberadaanku bersamamu didalam rumah ini. Tunjukan kepada suamimu. Suatu saat aku akan kembali mengambil keris ini.

NYAI WIDURI MEMBERIKAN SEMUA MAKANAN DAN MINUMAN UNTUK BEKAL P.PURBAYA.

Nyai Widuri    : Baiklah hamba tidak bisa mencegah kehendak pangeran. Ini perbekalan seadanya untuk Pangeran, Hati-hati selama diperjalanan.

P.Purbaya        : Iya, terima kasih (P.Purbaya mantap melangkah meninggalkan Nyai Widuri. Ia melanjutkan perjalanan).

P. PURBAYA PERGI. NYAI WIDURI TERDIAM SAMBIL MAMANDANGI KEPERGIAN P.PURBAYA. NYAI WIDURI MEMANDANGI KERIS SIMANGKLAN IA MENGELUARKAN KERIS SIMANGKLAN DARI WARANGKANYA LALU MEMASUKANNYA KEMBALI.

Nyai Widuri    : (Bicara sendiri ) Lebih baik aku menyimpannya. (melangkah kedalam menyimpan keris itu). 

BABAK III

NYAI WIDURI SEDANG MENYIMPAN KERIS SIMANGKLAN. KI PEDARINGAN PULANG DARI LADANG DIPUNDAKNYA MEMIKUL CANGKUL LALU DILETAKKAN DI SUDUT DINDING. WAJAHNYA TAMPAK LELAH SETELAH SETELAH KERJA DILADANG. KI PEDARINGAN MASUK TANPA MENGETUK PINTU, MENUANG AIR MINUM DARI KENDI NAMUN TIDAK ADA ISINYA. LALU MEMBUKA BAKUL ISI MAKANAN TIDAK ADA ISINYA. KI PEDARINGAN MEMPERHATIKAN KULIT SEMANGKA DAN GELAS YANG BARUSAN UNTUK UNTUK MENYUGUH P.PURBAYA.

Ki Pedaringan             : (memanggil Nyai Widuri beberapa kali) Nyai Widuri....Nyai Widuri....

NYAI WIDURI MUNCUL DARI DALAM.

Nyai Widuri    : Iya....Eh...Aki sudah pulang.

NYAI WIDURI TAMPAK KEBINGUNGAN MELIHAT SUAMINYA TIDAK MENEMUKAN MAKANAN DAN MINUMAN. 

Ki Pedaringan : Iya.

Nyai Widuri    : (Terputus-putus, bimbang) Maaf...Aki, E....e.......

Ki Pedaringan             : (Meletakan gelas  yang dipegangnya) ada apa?

Nyai Widuri    :Tidak, tidak ada apa-apa.

Ki Pedaringan             : (curiga)  Kok sepertinya ada yang disembunyikan.

Nyai Widuri    : (Ragu, serba salah) tidak... tidak apa-apa, tidak ada apa-apa kok.

Ki Pedaringan             : (Acuh) Kalau tidak ada apa-apa ya sudah....tolong ambilkan air minum aku haus.

Nyai Widuri    : Maaf Aki, air minumnya habis. Tunggu sebentar ya....aku akan merebus (melangkah ke tungku hendak merebus air)

Ki Pedaringan : Tidak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya? Biasanya kamu sudah mempersiapkan segala sesuatu kalau aku pulang dari ladang. Termasuk makanan dan minuman.

Nyai Widuri    : E.....begini Aki, e...saya mau cerita sesuatu, boleh apa tidak?

Ki Pedaringan : Loh...ya jelas boleh, kamu kan istriku jadi sudah semestinya bercerita dan tidak perlu ada yang disembunyikan, ceritakan saja aku akan mendengarkan.

Nyai Widuri    : Benar, Aki tidak akan marah?

Ki Pedaringan : Marah?! Marah kenapa? Sudah cerita saja...

Nyai Widuri    : Begini Aki, tadi ada tamu..

Ki Pedaringan : Tamu? Tamu siapa? Bagaimana orangnya? Apakah dia ada perlu denganku? Sekarang dimana orangnya?

Nyai Widuri    : Eh... dia orang asing, maksudku dia seorang prajurit. Dia laAki-laAki. Dia tidak ada perlu dengan Aki. Jadi dia langsung pergi.

Ki Pedaringan : Orang asing?

Nyai Widuri    : (Takut, khwatir terjadi sesuatu) Maaf Aki... Dia seorang pangeran dan...

Ki Pedaringan : (Memotong) MesAkipun dia seorang pangeran, tetapi aku suamimu. Aku kepala keluarga dirumah ini. Jadi sudah semestinya kamu harus meminta ijin kepadaku untuk menerima tamu apalagi laAki-laAki. Aku harus tahu apa yang terjadi didalam rumah ini.

Nyai Widuri    : Tetapi itu tidak mungAkin...

Ki Pedaringan : Tidak mungkin?

Nyai Widuri    : Iya, Aki sedang berada jauh diladang. Dia terluka parah disekujur tubuhnya karena telah terlibat dalam pertempuran membasmi para perusuh dan harus segera diobati. Bajunya sampai berlumuran darah. Aku membuat ramuan untuk mengobati luka-luka seperti yang Aki ajarkan. Sepertinya berat sekali menjadi prajurit menjalankan tugas negara bahkan dengan cara mempertaruhkan nyawanya sendiri, dan semua makanan dan minuman sudah aku berikan kedanya untuk bekal diperjalanan. Semula aku ingin memperkenalkan ia kepada Aki supaya tidak terjadi salah paham. Tapi ia memaksa pergi karena masih ada tugas penting yang harus diselesaikan katanya.

Ki Pedaringan : Ah.....memangnya siapa dia? Lebih penting diakah dibandingkan denganku?

Nyai Widuri    : Maaf Aki bukan itu maksudku. Tapi pangeran itu bernama Pangeran Purbaya.

Ki Pedaringan : Aku tidak mau tahu siapa pangeran itu.

Nyai Widuri    : Aki jangan salah paham. Aku hanya ingin bercerita.

Aki Pedarigan : Bercerita dan membanding-bandingkan, Pangeran dan Petani

Nyai Widuri    : Bukan...bukan itu maksudku aku hanya...

Ki Pedaringan : (Memotong) Tidak pernah aku sangka, kecantikanmu menjadikan petaka dirumah ini.

Nyai Widuri    : Apa maksud Aki?!

Ki Pedaringan: Kecantikanmu mengundang seorang pangeran disaat aku sedang tidak ada dirumah. Capek-capek aku bekerja diladang tapi kamu justru enak-enakan dirumah bersama laAki-laAki lain. Lihatlah aku sebagai suamimu, mesAkipun usiaku jauh lebih tua dibandingkan denganmu.

Nyai Widuri    : Selama ini aku hidup bahagia denganAki.

Ki Pedaringan : Lantas apa saja yang ia telah perbuat terhadapmu. Apa yang kalian lakukan selama aku berada ditengah ladang?

Nyai Widuri    : Aki. Aku mohon Aki jangan berburuk sangka, sekali lagi aku katakan aku hanya mengobati luka-lukanya. Tidak lebih dari itu.

Ki Pedaringan : Aku tidak percaya.

Nyai Widuri    : Lalu aku harus bagaimana? Aku harus bercerita apa? Apakah aku harus berbohong dan mengarang-ngarang cerita supaya Aki senang dengan apa yang aku ceritakan?

Ki Pedaringan :  Ah....Aku tidak tahu. Tapi aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, ada yang kamu rahasiakan. Ada yang kamu tutup-tutupi. Kamu sudah tidak lagi menghormatiku sebagai suami.

Nyai Widuri    : Tidak seperti itu Aki. Sampai saat ini aku tetap menaruh hormat terhadapmu.

Ki Pedaringan : Omong kosong.

Nyai Widuri    : Sungguh Aki, tidak mungAkin aku berkhianat terhadapmu.

Ki Pedaringan : Ah....tidak mungAkin orang bersalah dengan begitu saja mengakui kesalahannya.

Nyai Widuri    : Bersalah? Ketika aku melakukan apa yang Aki ajarkan kepadaku lalu Aki anggap aku bersalah?

Ki Pedaringan : Kamu sudah pandai bersilat lidah sekarang. Kamu pandai bicara untuk menutupi kebohonganmu.

Nyai Widuri    : Tidak Aki, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Ki Pedaringan : (geram) Sekali lagi aku tanyakan.  Apa saja yang sudah kamu lakukan bersama pangeran itu dirumah ini?!

Nyai Widuri    : Aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Ki Pedaringan : Aku tidak percaya!

Nyai Widuri    : (Kaget tidak percaya dengan apa yg didengarnya). Aki (Menangis) Baiklah,  kalau Aki memang tidak percaya lagi dengan kata-kataku, ada sebuah saksi yang bisa menunjukan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi selama Aki tidak berada dirumah. (Nyai Widuri mengambil keris simangklan yang dititipkan P. Purbaya kepadanya, keris itu dilolos dari warangkanya). Aki, lihatlah sumpahku. Ku torehkan keris simangklan ini dijariku. Kuteteskan darah dikembang Nyai Widuri putih kesayanganmu. Kalau kembangnya ternoda oleh darahku, dustalah istrimu. Tapi kalau kembang kesayanganmu berubah jadi ungu maka masih sucilah hatiku.  

KEMBANG NYAI WIDURI PUTIH WARNANYA BERUBAH JADI UNGU KEBIRUAN YANG CANTIK. KI PEDARINGAN TERHENYAK KAGET. MELANGKAH BEBERAPA LANGKAH KE BELAKANG.

Ki Pedaringan : Keajaiban apa ini?! (Gugup) perkataanmu benar. Tidak salah sediAkitpun. Aku besalah telah berburuk sangka kepada Pangeran Purbaya. Aku harus menemuinya, aku harus meminta maaf kepadanya. Akan aku katakan kepadanya, jika kelak aku mati, aku ingin ia menjagamu.

Nyai Widuri    : Tidak Aki. Tidak perlu kamu pergi menemuinya, ia berjanji akan datang lagi  kemari unuk mengambil keris ini.

Ki Pedaringan : Tidak mungAkin aku menunggu. Aku harus segera menemuinya untuk meminta maaf darinya. Jaga dirimu baik-baik dirumah.

Nyai Widuri    : Percuma Aki mencari orang di tengah medan perang.

Ki Pedaringan             : Tidak. Aku harus segera menyusulnya, akan aku katakan kepadanya jika terjadi suatu hal buruk kepadaku, akan aku minta ia menjagamu.

KI PEDARINGAN BURU-BURU PERGI MENINGGALKAN NYAI WIDURI. NYAI WIDURI TERMANGU DIAM. TIBA-TIBA NYAI WIDURI MERASA MUAL. IA MUNTAH-MUNTAH SEPERTI MASUK ANGIN. SEORANG PEREMPUAN PENDUDUK MASUK KE PANGUNG.

Penduduk       : Ada apa Nyai Widuri?

Nyai Widuri    : Entahlah...tiba-tiba perutku terasa mual. MungAkin masuk angin.

Penduduk       : Oh....coba duduk. Biar aku pijiti. (Nyai Widuri menuruti kata-katanya, penduduk itu memijit bagian leher belakang Nyai Widuri, Nyai Widuri masih mual). Bagaimana sekarang rasanya?

Nyai Widuri    : Sudah...mendingan. sudah cukup, terimakasih. MungAkin aku masuk angin biasa.

Penduduk       : MungAkin juga kamu akan segera diberi momongan.

Nyai Widuri    : (Kaget) Apa? Momongan? Maksudnya aku hamil?

Penduduk       :Iya. Biasanya kalau perempuan sedang berisi perutnya ia terasa mual dan itu yang dinamakan ngidam. Mestinya kamu merasa senang dan bersyukur karena yang maha kuasa akan menganugerahimu momongan.

Nyai Widuri    : (wajahnya tampak senang) Duh Gusti.....

Penduduk       : Ya itu sudah lumrah. Perempuan yang sedang mengandung akan merasa bangga karena dapat memberikan keturunan kepada suaminya. Sekarang yang penting kamu harus banyak istirahat supaya kandunganmu juga sehat. Oh iya...ngomong-ngomong dimana Ki Pedaringan sekarang?

Nyai Widuri    : Ia sedang pergi....

Penduduk       : Kemana?

Nyai Widuri    : Jauh....

Penduduk       :Ealaaah....kalau dia tahu, pastilah ia akan merasa sangat senang dan bangga. Ngomong-ngomong kemana ia perginya?

Nyai Widuri    : (berusaha menutupi) katanya ada urusan penting.

Penduduk       : Oh....

Nyai Widuri    : Tolong kalau ada yang ketemu dengannya sampaikan keadaanku sekarang. Supaya ia cepat pulang. 

Penduduk       : sebaiknya kamu banyak istirahat, sekarang aku mau pamit dulu. Nanti akan aku sampaikan kepada suamiku, siapa tahu suamiku bertemu dengannya.

Nyai Widuri    :Iya, terimakasih.

PENDUDUK PERGI. LAMPU PERLAHAN-LAHAN REDUP.

ADEGAN VI

LAMPU MENYALA KEMBALI. TUJUH BULAN KEMUDIAN PERUT NYAI WIDURI SUDAH MEMBESAR. NYAI WIDURI BERDIRI SAMBIL MENGELUS PERUTNYA YANG BUNCIT.

Nyai Widuri    : (Bicara  sendiri) Sudah tujuh bulan kamu pergi Aki. Tidak ada kabar baik duka maupun suka darimu. Anakmu dalam kandungan ingin melihatmu bila kelak lahir dan melihat dunia. Kapan kamu akan pulang Aki? Berat sekali hidup yang aku jalani saat ini bersama jabang bayi, aku ingin kamu ada disampingku. Aki, sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu. (memperhatikan keris) Pangeran Purbaya, sudahkah suamiku menemuimu untuk meminta maaf? Dan kapan engkau akan datang kemari untuk mengambil keris simangklan yang kau titipkan padaku.

NYAI WIDURI LELAH LALU IA TERTIDUR DI BALAI BAMBU. DALAM TIDURNYA IA BERMIMPI PANGERAN PURBAYA MENEMUINYA UNTUK MENGAMBIL KERIS.

ADEGAN V

Nyai Widuri    :( wajahnya berseri-seri)  Pangeran. Akhirnya engkau datang.

P.Purbaya        : Iya. Aku menepati janji. Maksud kedatanganku kesini untuk mengambil keris simangklan yang aku titipkan kepadamu. Karena aku tahu kamu telah menggunakan keris simangklan sesuai yang aku amanatkan.

Nyai Widuri    : Ampun beribu ampun Pangeran. Keris yang Pangeran titipkan masih hamba simpan dengan baik. Lama sekali hamba menunggu kedatangan Pangeran dan rupanya baru saat ini Pangeran datang kembali kesini.

P.Purbaya        : Iya, dan itupun aku tidak bisa berlama-lama berada disini.

Nyai Widuri    : Ampun Pangeran. Ini keris yang Pangeran titipkan kepada hamba, terimaksih telah mempercayakan keris simangklan ini kepada hamba.

P. Purbaya       : Baikah. Aku segera pergi sekarang ada urusan negara yang harus diselesaikan.

PANGERAN PURBAYA PERGI. NYAI WIDURI TERBANGUN DARI TIDURNYA.

Nyai Widuri    : Duh...gusti. Ternyata aku bermimpi.  Apakah arti mimpiku tadi. Apakah Pangeran Purbaya menginginkan supaya aku mengembalikan kerisnya. (diam sejenak) ah... aku rasa keris ini lebih layak jika berada di kadipaten dari pada tetap disini. Iya, aku harus bersiap-siap menuju ke kadipaten.

NYAI WIDURI BERSIAP-SIAP PERGI MENUJU KE KADIPATEN. PERUTNYA YANG BESAR TIDAK MENJADI PENGHALANG UNTUK MELANJUTKAN TEKADNYA. NYAI WIDURI PERGI MELANGKAH SAMBIL MEMBAWA KERIS SIMANGKLAN YANG DIBALUT DENGAN KAIN PUTIH.

ADEGAN VII

DI KADIPATEN. TAMPAK ADIPATI BESERTA PARA BAWAHAN DAN PENGAWAL MENERIMA KEDATANGAN NYAI WIDURI. DAPAT DITAYANGKAN DENGAN FILM.

Adipati            : Jadi apa maksud kedatanganmu ke sini?

Nyai Widuri    : Ampun kanjeng. Maksud kedatangan hamba kesini untuk mengembalikan keris milik Pangeran Purbaya yang dititipkan kepada hamba beberapa bulan yang lalu karena sebuah sebab.

Adipati            : Karena sebuah sebab? apa maksudmu bisakah kamu ceritakan lebih jelas?

Nyai Widuri    : Ampun kanjeng, waktu itu Pangeran Purbaya sedang terluka parah karena beberapa sayatan senjata para pemberontak di pantai utara dan hamba mengobatinya.

Adipati            : Perutmu besar, tampaknya kamu sedang mengandung. Kenapa kamu datang kesini sendirian? Dimana suamimu?

Nyai Widuri    : Ampun Kanjeng. Karena sebab itulah suami hamba jadi salah paham hingga akhirnya dia merasa benar-benar bersalah kepada Pangeran Purbaya lalu dia memutuskan untuk pergi menemui Pangeran Purbaya untuk meminta maaf.

Adipati            : Iya, iya....aku mengerti memang tidak sepatutnya Akita berburuk sangka kepada junjungan. Pangeran Purabaya adalah orang terpandang dan beliau banyak berjasa untuk negeri ini. (diam sesaat) Coba bawa kemari keris itu. Aku ingin melihat lebih jelas melihat keris simangklan milik Pangeran Purbaya.

PENGAWAL MEMINTA KERIS ITU KEPADA NYAI WIDURI. NYAI WIDURI MEMBERIKANNYA LALU PENGAWAL MEMBERIKAN KERIS ITU KEPADA KEPADA KANJENG ADIPATI. KANJENG ADIPATI MEMBUKA BALUTAN KAIN PUTIH YANG MEMBALUT KERIS ITU LALU MENGAMATI GAGANG DAN WARANGKANYA. IA TERMANGU-MANGU KEMUDIAN MENCABUT KERIS  SIMANGKLAN DARI WARANGKANYA IA SEMAAKIN TAKJUB.

Kanjeng Adipati : (Setelah mengamati) Iya, Benar. Keris ini memang milik Pangeran Purbaya. (Berdiri) sebagai wujud rasa terimakasih kadipaten terhadapmu karena telah menjaga keris simangklan ini maka, mulai sekarang, desa yang kamu tinggali aku jadikan tanah perdikan, kadipaten tidak akan memungut pajak, semua penduduk disana akan menghormatimu. Jadilah pengayom dan panutan bagi semua warga.

Nyai Widuri    : Terimakasih atas semua perhatian kanjeng adipati kepada hamba. Sejujurnya atas keputusan kanjeng adipati tersebut sangat meringankan beban hidup hamba bersama si jabang bayi. Hamba mohon pamit kanjeng.

Adipati            : (Memerintahkan kepada pengawal) Pengawal. Hantarkan Nyai Nyai Widuri sampai ke desanya. Pastikan ia selamat sampai ke rumahnya. 

Pengawal        : Perintah Kanjeng Adipati hamba laksanakan.

NYAI WIDURI MEMBERI HORMAT KEPADA KANJENG ADIPATI LALU BERDIRI. DUA PENGAWAL MENGHANTARKANNYA KELUAR.

ADEGAN VIII

LAMPU GELAP. DI RUMAH NYAI WIDURI, TERDENGAR SUARA IA SEDANG BERJUANG MELAHIRKAN BAYINYA LALU DISUSUL SUARA TANGIS BAYI.

LAMPU MENYALA. NYAI WIDURI DUDUK SAMBIL MENGGENDONG BAYI.

Nyai Widuri    : (Bicara sendiri) Bahkan sampai bayi ini lahir, kamu belum pulang Aki. Aku berjanji tetap akan menunggumu. Sampai kapan kamu akan menjadi abdi di Mataram?

LAMPU REDUP.

SELESAI

                                                                                                                                            10 Agustus 2015

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar