WIDURI
Karya: Ahmad Bukhori, S.Sn.
(Dari cerita rakyat Pemalang)
Tokoh : 1. Nyai
Widuri -Perempuan Cantik - Usia 20 Tahun
–Istri Ki Pedaringan
2.
Ki Pedaringan, -Laki-laki -Usia 50 tahun -Petani -Suami Nyai Widuri
3. Pangeran Purbaya, -Laki-laki tampan
-Usia 25 tahun – Pangeran Mataram
4.
Beberapa Penduduk
BABAK I
SEAKITAR
EMPAT ABAD SILAM. DI WILAYAH PEMALANG SEBELAH UTARA MASIH BANYAK HUTAN DAN
RAWA. HIDUPLAH SEPASANG SUAMI ISTRI KI
PEDARINGAN DAN NYAI WIDURI.MEREKA MENJALANI HIDUP DENGAN BAHAGIA. KI PEDARINGAN
TERMASUK ORANG YANG CUKUP ULET MENGOLAH TANAH YANG KURANG SUBUR DIBANDINGKAN
WARGA LAINNYA YANG LEBIH MEMILIH PINDAH TEMPAT TINGGAL. KARENA KETEKUNAN KI
PEDARINGAN LAMBAT LAUN TANAH TERSEBUT MENJADI SUBUR.
PAGI
ITU. DI RUMAH KI PEDARINGAN TAMPAK TENANG. BEBERAPA PERABOTAN MENUNJUKAN ORANG
YANG SEDERHANA. NYAI WIDURI SEDANG MEMPERSIAPKAN SARAPAN UNTUK SUAMINYA DAN
DIRINYA SENDIRI. DI ATAS MEJA MAKAN BEBERAPA MAKANAN SEPERTI SINGKONG DAN UBI
BERADA DIATAS PIRING YANG TERBUAT DARI TANAH. SEMENTARA NASI DIDALAM CETING
YANG TERBUAT DARI ANYAMAN BAMBU. TERDAPAT JUGA KENDI YAG TERBUAT DARI TANAH DIPENUHI
AIR. BEBERAPA GELAS TERBUAT DARI TANAH/BAMBU JUGA ADA DI SEAKITARNYA.TERDENGAR
SUARA AYAM JANTAN BERKOKOK, ENTOK, BEBEK, DAN JUGA KAMBING. PERLAHAN-LAHAN
SUARA ITU TENGGELAM.
Nyai Widuri : (Sambil mempersiapkan makanan untuk
sarapan, dari wajahnya tampak senang). Binatang-binatang itu sangat
menghiburku. Aku tidak pernah merasa kesepian, suara binatang-binatang ini
menjadi teman saat suamiku pergi ke ladang. Terkadang aku berbicara dengan
mereka mesAkipun binatang-binatang peliharaan itu tidak mengerti apa yang aku
katakan.
Ki Pedaringan : (Dari dalam Ki Pedaringan masuk) Kamu
seorang perempuan yang rajin. Setiap pagi seperti ini kamu mempersiapkan
sarapan untukku. Pagi-pagi buta kamu sudah memasak makanan atau merebus air.
Sambil menunggu semuanya matang kamu menyapu ruangan...ealah...alangkah
beruntungnya aku ini. Menjadi suami dari perempuan cantik yang dulu diidolakan
banyak laki-laki, dan ahirnya menjadi milikku. (melirik ke arah Nyai Widuri).
Nyai Widuri : (Tersipu
malu) Ah...Aki bisa saja, pagi-pagi
sudah merayu. Tentu saja ini semua saya lakukan karena saya ini istri yang
memang seharusnya melakukan kewajiban seorang istri kepada suami.
Ki Pedaringan : Tetapi
aku lihat kamu melakukannya bukan sekedar untuk menjalankan kewajiban. Kamu
benar-benar seorang istri yang selama ini aku impi-impikan. (Diam. Nyai Widuri tersipu malu) kalau
dulu sebelum menikah, setiap pergi ke ladang atau sawah aku selalu pulang ke
rumah pada sore atau malam hari. Dan terkadang juga aku menginap digubug yang
aku buat diladang, baru aku pulang pada esok harinya.
Nyai Widuri : (Memotong)
Sejak dulu aki memang laki-laki yang sabar, ulet, jujur, dan dewasa. Atas
pertimbangan itulah aku bersedia menerima lamaran aki. Coba perempuan mana yang tidak memimpikan laki-laki seperti aki?
Dewasa dan penuh pengertian.
Ki Pedaringan : (tertawa bangga)Hahaha...kamu ini bisa
saja, bukankah manusia hidup untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan itu yang
semestinya dilakukan setiap orang. Apalagi aku laki-laki, jadi jauh-jauh hari
memang harus aku persiapkan sebelum berkeluarga (Diam) Nyai
Widuri, hidup memang harus nariman ing pandum, tapi kalau kita diam
saja dan tidak berbuat apa-apa alam tidak akan bersahabat dan tetap ganas dan kita
sebagai manusi yang diberikan akal dan budi sudah semestinyalah bebuat sesuatu
supaya kelak dapat diwariskan kepada anak cucu. (Diam. Memandang wajah Nyai Pedaringan)Kamu cantik Nyai, selain
itu kamu juga penyabar dan tekun. Laki-laki mana yang tidak berharap menjadi
pendamping hidupmu? (diam) Selain
tugas seorang istri melayani kebutuhan seorang suami, seorang istri juga
semestinya harus bisa menjaga harta suaminya, agar kelak keturunannya tidak
selalu merasa khawatir untuk bisa makan apa, dan terbukti kamu bisa melakukan
itu semua. Nyai bisa dipercaya.
Nyai Widuri : Ora
ono dino ora ono upo ki....dan sekarang Aki sudah membuktikannya. Sawah
ladang luas. Binatang ternak pun banyak. Sekarang semua yang aki impikan sudah
dimiliki. Aki tidak perlu lagi menghabiskan seluruh waktu aki ditengah sawah
atau ladang. Alon-alon waton klakon
Kang... jaga kesehatan itu yang lebih utama.
Ki Pedaringan : (Termanggut-manggut) Iya iya.....karena
itulah sekarang aku bekerja di ladang atau sawah cukup setengah hari saja.
Tetapi alasan yang sebenarnya karena dirumah sudah ada perempuan cantik yang
menyambut aku dengan senyuman dan seketika itu pula rasa lelah langsung hilang, rasanya sudah tidak kuat menahan rindu, meski
baru setengah hari di ladang.
Nyai Widuri : Tuh kan... Aki merayu lagi. Sudahlah...jangan
merayu terus. Aku senang bisa menjadi suami Aki. Aku hanya ingin berbakti kepada
Aki. Setiap kali Aki pergi bercocok tanam, selain menyiapkan makan siang, Aku
juga merawat binatang ternak, memberi makan, membersihkan kandang dan itu
membuat aku senang karena aku tidak
merasa sepi. Rumah tetangga jauh jaraknya, dalam sehari belum tentu bertemu
dengan orang lain selain aki.
Ki Pedaringan : Desa ini
dulu adalah tempat yang tidak subur. Para warga yang mencoba membuka lahan untuk
bercocok tanam memilih berpindah tempat tinggal. Mereka tidak tahan dengan
serangan babi hutan dan mereka juga tidak sabar megolah tanah yang tidak subur,
rawa-rawa yang dihuni banyak ular. (menghela
nafas)Seandainya mereka tetap sabar dan telaten, pastilah desa ini sekarang
menjadi pemuAkiman penduduk yang ramai. (Nyai
Widuri mendengarkan cerita Ki Pedaringan)Pernah suatu ketika seorang warga
yang sedang membuka lahan tiba-tiba diseruduk babi hutan, terluka cukup parah
tepat dibagian pahanya sampai-sampai tulangnya terlihat putih, darahnya
bercucuran. Untungnya aku berada tidak jauh dari kejadian itu. Anjing-anjing
segera mengeroyok babi hutan itu dan luka orang itu segera aku obati, mula-mula
aku bersihkan luka orang itu lalu aku tutup dengan ramuan dedaunan. setelah aku
ikat dengan kain agar darahnya tidak terus keluar. (Kepada Nyi Nyai Widuri)Nyai Widuri...alam menyediakan segalanya,
kalau Akita dapat memanfaatkannya dengan baik ia akan memberikan apa saja yang Akita
butuhkan. Oleh karena itu kamu mesti belajar banyak bukan hanya dalam hal
memelihara binatang tetapi juga dalam hal pengobatan karena suatu saat pasti
dibutuhkan. Selain bermanfaat untuk diri Akita sendiri Akita juga dapat
menolong orang lain yang membutuhkannya.
Nyai Widuri : Iya, Aki sudah mengajari Nyai dalam
banyak hal. Mulai dari beternak binatang sampai dalam hal pengobatan.
Ki Pedaringan : Pernah
juga ada yang tiba-tiba dililit ular besar ketika sedang masuk ke dalam rawa
untuk menangkap ikan. Yah...kontan saja mereka memilih pindah tempat tinggal,memilih
tempat tinggal yang lebih aman dan juga lebih subur untuk ditanami palawija
atau lainnya. Sebagian dari mereka juga ada yang beranggapan tempat ini angker,
dihuni banyak makhluk halus atau jin karena itu pula mereka memilih untuk
pindah tempat tinggal. (menatap jauh)
tetapi sekarang sebagian dari mereka kembali ke tempat ini setelah mereka
melihat apa yang aku usahakan selama ini telah membuahkan hasil. Kesadaran
mereka mulai terbuka. Kesadaran untuk mengolah tanah sehingga manusia dapat
hidup selaras dengan alam.(Nyai Widuri
mendengarkan cerita Ki Pedaringan). Dan dengan demiAkian kami bisa saling
bahu membahu, bergotong royong dengan warga lain untuk mengerjakan hal-hal yang
dirasa berat karena untuk kepentingan bersama. Membuat jalan untuk mempermudah
menghubungkan dusun ini dengan dusun disebelah, salah satu manfaatnya Akita bisa
menjual hasil ternak mesAkipun
kecil-kecilan juga hasil panen, karena
dapat mempermudah tengkulak untuk datang ke dusun ini. Rawa-rawa ditimbun
dengan tanah lalu dijadikan area persawahan. Sebagian sisanya diubah menjadi
tambak untuk memelihara ikan. Selain mengandalkan air hujan untuk mengairi sawah,
aku dan warga yang lain juga membuat bendungan disungai untuk mengairi sawah.
Sementara tanah yang berada di dataran lebih tinggi dijadikan ladang untuk
ditanami singkong atau lainnya. (Menghela
nafas) iya....itu semua adalah keinginan bersama untuk mengubah tempat yang
tadinya tidak bisa dijadikan tempat tinggal menjadi tempat yang bisa ditinggali.
Menjadi tempat yang bisa ditanami untuk mencari nafkah.
Nyai Widuri : Aki sangat ulet dalam bekerja.
Sampai-sampai....(kalimatnya terhenti)e....
Ki Pedaringan :
Sampai-sampai apa? (tanyanya dengan
lembut) sampai-sampai aku terlambat menikah? Kalau saja aku tidak bertemu
dengan gadis cantik sepertimu,mungkin sekarang aku belum menikah, dan lagi
teman-temanku sering bilang padaku setiap kali aku bicara tentangmu. Kata
mereka(menirukan cara bicara temannya) “cepatlah menikah...jangan
lama-lama, nanti keburu diduluin orang lain loh...”
Nyai Widuri : (menyindir)
Oh...jadi Aki menikahi saya karena desakan dari teman-teman Aki. Bukan kemauan
dari hati Aki sendiri...
Ki Pedaringan : Tidak...tidak
seperti itu....menikah ya jelas kemauan diri sendiri, Tapi kan semuanya butuh
persiapan yang matang. Harus siap sandang, pangan dan papan untuk keluarga yang akan dibina
nantinya. Supaya anak-anak yang dilahirkan dari rahim istriku tidak mengalami
kesusahan karena itu semua.
Nyai Widuri :(menerawang,
memegang perut) tiap malam aku selalu berdo’a pada Yang Maha Kuasa supaya Akita
segera dikarunia momongan. (diam sejenak)hari
sudah hampir siang Kang...matahari sebentar lagi terbit.
Ki Pedaringan : Oh iya, aku
segera berangkat ke ladang. Jaga dirimu dirumah baik-baik.
NYAI
WIDURI MEMPERSIAPKAN BEKAL UNTUK AKI
PEDARINGAN. SEBUAH TEMPAT AIR MINUM TERBUAT DARI BAMBU DAN BEBERAPA UBI
REBUS DIBUNGKUS DIATAS DAUN JATI ATAU DAUN PISANG. KI PEDARINGAN BERSIAP-SIAP
BERANGKAT KE LADANG.
Nyai Widuri : Aki, Ini bekalnya.
Ki Pedaringan :
Terimakasih, (Sambil bercanda ringan) seperti
biasa...tengah hari nanti aku pulang.
Nyai Widuri : Iya. Hati-hati dijalan ya ki...
Ki Pedaringan : Iya.
KI
PEDARINGAN MELANGKAH PERGI. NYAI WIDURI MENATAP KEPERGIAN KI PEDARINGAN SAMPAI
JAUH HINGGA BAYANGANNYA HILANG DIBALIK RERIMBUNAN POHON. LAMPU FADE OUT.
BABAK II
LAMPU
FADE IN. SIANG HARI. DIRUMAH KI PEDARINGAN. NYAI WIDURI SENDIRIAN SEDANG
MENANAK NASI DIATAS KENDIL. DI TUNGKU API MENYALA DARI KAYU SESEKALI API REDUP,
NYAI WIDURI MENIUP KEMBALI MENGGUNAKAN SEMPRONG (POTONGAN BAMBU) MEMPERSIAPKAN
UNTUK MAKAN SIANG.TIBA-TIBA SUARA ANGSA PELIHARAANNYA MELENGAKING-LENGAKING.
Nyai Widuri : (Bicara
sendiri) Aneh... Ada apa ya? Kok tiba-tiba suara angsa melengAking-lengAking
sepert itu. Biasanya kalau seperti ini ada orang asing. (diam sejenak)Angsa-angsa itupenjaga rumah yang jeli.(Berbicara ke luar, agak berteriak)ada
apa ribut-ribut? Tak ada yang ganggu bukan? (Bicara
sendiri) tak ada jawaban, jangan-jangan ada ular, anjing liar atau binatag liar lainnya. (ia semaAkin penasaranmengambil sikap
hati-hati, sesekali melongok ke luar-lalu hedak melangkah keluar).Siapa di
luar?
Suara : (KesaAkitan)Tolong...tolong saya....
SEORANG
PEMUDA BERPERAWAKAN TINGGI BESAR, BERDADA BIDANG DAN TAMPAN MASUK. DARI
PAKAIANNYA TAMPAK BAHWA ADALAH SEORANG PRAJURIT MATARAM. CARA BICARANYA SOPAN. NYAI
WIDURI MERASA TAKJUB MELIHATNYA. TAPI CEPAT IA SADARI BAHWA IA ADALAH SEORANG
ISTRI KI PEDARINGAN. TUBUHNYA PENUH LUKA AAKIBAT PEPERANGAN. NAMPAK BEBERAPA LUKA
SABETAN PEDANG. DI PINGGANGNYA TERSELIP SEBILAH KERIS.
Nyai Widuri : (Kaget
dan Gugup) Duh Gusti...Panjenengan siapa?
Pangeran Purbaya : (Sesekali mengerang kesaAkitan)Maafkan
aku telah mengganggumu. Jangan kaget aku prajurit Mataram, sedang menumpas para
pemberontak, Salingsingan dari Cirebon. Aku butuh bantuanmu.
Nyai Widuri : (Gemeteran)
Ta...tapi apa yang bisa kubantu? Lagipula laAkiku sedang jauh
P. Purbaya :Percayalah aku orang baik, aku tidak
akan berbuat jahat kepadamu. Namaku Purbaya. Pangeran Pubaya dari Mataram.
NYAI WIDURI SEMAAKIN TERSENTAK KAGET
HAMPIR TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG DI DENGAR. NYAI WIDURI SEGERA MENUNDUKAN
MUKA.
P. Purbaya : Tolong beri
aku makan dan minum seadanya. Obati luka-lukaku. Tugasku masih banyak.(sesekali mengerang merasa kesaAkitan).
NYAI
WIDURI BERTAMBAH GUGUP. TETAPI IA MERASA SENANG MENJAMU TAMUNYA. BURU-BURU KE
BELAKANG MENGAMBIL AIR MINUM LALU DENGAN CEPAT MEMOTONG BUAH SEMANGKA DAN MENYUGUHKAN
SINGKONG REBUS
Nyai Widuri : (Menuangkan
air minum lalu diberikan kepada Pangeran Purbaya juga menyuguh semangka dan
makanan) Ampun Pangeran, silahkan diminum. Ini ada semangka dan makanan
silahkan dicicipi pangeran.
P. Purbaya : (P.Purbaya
meminum air yang diberikan Nyai Widuri) Terimakasih...
(lalu memakan semangka dan singkong
rebus).
Nyai Widuri : Luka pangeran sangat parah, kalau tidak
segera diobati bisa bertambah parah.
P. Purbaya : Tolong obati segera obati luka-lukaku.
Nyai Widuri : Hamba dapat mengobati luka, suami hamba
mengajari hamba cara-cara pengobatan. Biarkan hamba membersihkan luka pangeran
dengan air hangat terlebih dahulu.
P.Purbaya : Ya..silahkan.
NYAI
WIDURI MEMPERSIAPKAN AIR HANGAT KEMUDIAN DENGAN AGAK GUGUP NYAI WIDURI MEMBASUH
LUKA P. PURBAYA DENGAN AIR. P. PURBAYA MERINTIH MENAHAN SAAKIT
NYAI
WIDURI MERAMU OBAT-OBATAN. MENUMBUK DEDAUNAN DAN REMPAH-REMPAH DIJADIKAN SATU.
Nyai Widuri : (Sambil
Meramu obat-obatan) Sepertinya berat sekali menjadi seorang prajurit, harus
berani mempertaruhkan nyawa dalam menjalankan tugas negara.
P. Purbaya :Yah, begitulah. Tapi bagiku menjalankan
tugas ini adalah suatu kebanggan sekaligus sebuah kehormatan. Seandanya di
negara ini tidak selalu terjadi pergolakan, pastilah Mataram dapat dengan mudah
mendapatkan kejayaannya, seperti pada jaman keemasan Majapahit dahulu. Semua
rakyat menjadapatkan rasa aman ketika mereka mencari nafkah. Baik ketika sedang
bertani ataupun ketika sedang melaut mencari
ikan.
Nyai Widuri : Ampun Pangeran, benar apa yang anda
katakan. Kalau keadaan aman, maka bagi kami akan mudah dalam bekerja. Sehingga kami dapat
tepat waktu membayar pajak ke kadipaten.
P.Purbaya : Nah, dari situ jugalah sebenarnya
negara dapat membagun apa saja yang dibutuhkan oleh rakyatnya, baik jalan,
pengairan atau pun yang lainnya. Untuk melakukan semua itu, tidak mungAkin
dapat terlaksana tanpa adanya rasa aman yang didapatkan oleh semua rakyat.
Nyai Widuri : Lalu sebetulnya, apa yang diinginkan oleh
para perusuh itu? kenapa mereka melakukan kerusuhan dimana-mana?
P. Purbaya : Mereka hanya sibuk memiAkirkan bagaimana
merebut kekuasaan. Para perusuh itu sibuk menebar pengaruh kepada rakyat supaya
rakyat mendukung apa yang mereka rencanakan. Lalu bagi rakyat yang tidak
mendukung rencana mereka, para perusuh itu akan terus meneror dan mengancam rakyat
supaya mendukung rencana mereka, dan pada saat itulah negara menugaskan kepada
kami selaku prajurit untuk menumpas gerombolan perusuh itu supaya terwujud rasa
aman bagi seluruh rakyat Mataram dimanapun berada.
Nyai Widuri : Ampun Pangeran. Mulia sekali tugas seorang
prajurit, rela mengorbankan nyawanya demi kami rakyat kecil seperti kami dalam
memberikan rasa aman. Bahkan Pangeran sendiri pun sampai harus terluka parah. (selesai meramu obat-obatan) ramuannya
sudah siap. Hamba harus menempelkan ramuan ini dibadan Pangeran yang teruka, supaya
darah tidak terus keluar karena dapat menjadi koreng, bernanah lalu menjalar
kemana-mana.
P. Purbaya : Ya...silahkan.
NYAI
WIDURI MENEMPELKAN RAMUAN DIDADA PANGERAN PURBAYA YANG TERLUKA, NYAI WIDURI
GUGUP DAN GEMETERAN. P. PURBAYA MENAHAN SAAKIT
Nyai Widuri : Sudah Pangeran. Bagaimana sekarang rasanya pangeran?
P. Purbaya : Iya. Sekarang rasanya sudah lebih
baik.
Nyai Widuri : Syukurlah....semoga ramuan buatan saya
dapat segera menyembuhkan luka-luka yang ada dibadan pangeran. Saya senang sekali dapat mengobati luka-luka
yang pangeran alami.
P. Purbaya : Siapa yang mengajarimu ilmu pengobatan?
Nyai Widuri : Ampun...yang mengajari ilmu pengobatan
kepada hamba suami hamba sendiri, dia mengajarkan kepada hamba tentang banyak
hal. Mulai dari bercocok tanam, berternak hingga ilmu pengobatan, katanya ilmu
pengobatan itu sangat penting bagi Akita semua karena selain berguna untuk diri
sendiri juga dapat berguna untuk orang yang membutuhan perotolongan.
P. Purbaya : (Manggut-manggut) Iya...iya....baiklah,
terimakasih atas semuanya, masih banyak tugas yang harus segera diselesaikan.
Oh ya...namamu siapa? Dari tadi saya minta tolong tapi tidak tahu namamu.
Nyai Widuri : Ampun pangeran. Nama hamba Nyai Widuri.
P. Purbaya : Nyai Widuri....aku harus melanjutkan
perjalanan. Masih banyak tugas yang haus aku selesaikan. Aku pamit dulu.
Nyai Widuri :Tapi alangkah baiknya kalau pangeran
bersedia menunggu suami hamba pulang dari ladang. Ini demi kebaikan semua
supaya tidak terjadi fitnah kalau-kalau ada yang melihat pangeran berada
dirumah ini. Sebab bagaimana pun juga sebenarnya tidak baik seorang istri
memasukan laAki-laAki lain kedalam rumah tanpa sepengetahuan suaminya. Jadi lebih baik saya perkenalkan secara terus
terang pangeran kepada suami hamba.
P. Purbaya : Baiklah akan aku tunggu sebentar.
Nyai Widuri : Terimakasih atas pengertiannya
pangeran...ini demi kebaikan bersama. (P.Purbaya
duduk menunggu).
NYAI
WIDURI TAMPAK RESAH MENUNGGU SUAMINYA YANG TAK KUNJUNG DATANG. IA MELIHAT
KEARAH MAKANAN DAN MINUMAN LALU MELETAKKAN SEMUA MAKANAN DIATAS DAUN DAN
MEMBUNGKUSNYA DI SELEMBAR KAIN. NYAI WIDURI PUN MENUANGKAN AIR MINUMAN KE BAMBU
UNTUK TEMPAT MINUMAN.
P.Purbaya : (Kepada
Nyai Widuri) sepertinya laAkimu masih lama datangnya. Lebih baik saya
segera pergi karena masih ada tugas penting yang harus segera diselesaikan. Aku
diburu waktu.
Nyai Widuri :Ampun pangeran, biasanya suami hamba
sebentar lagi pulang. Hamba mohon, tunggu sebentar saja, sekali lagi ini demi
kebaikan bersama.
PANGERAN PURBAYA
MENUNJUKAN KERIS SIMANGKLAN
P. Purbaya : Kamu tidak usah khawatir. (Diam sejenak berpiAkir, lalu P.Purbaya
memberikan keris simangklan
beserta warangkanya) keris simangklan ini aku titipkan padamu, biarkan
keris simangklan ini menjadi saksitentang keberadaanku bersamamu didalam rumah
ini. Tunjukan kepada suamimu. Suatu saat aku akan kembali mengambil keris ini.
NYAI WIDURI MEMBERIKAN SEMUA
MAKANAN DAN MINUMAN UNTUK BEKAL P.PURBAYA.
Nyai Widuri : Baiklah hamba tidak bisa mencegah kehendak
pangeran. Ini perbekalan seadanya untuk Pangeran, Hati-hati selama
diperjalanan.
P.Purbaya : Iya, terima kasih (P.Purbaya mantap melangkah meninggalkan Nyai Widuri. Ia melanjutkan
perjalanan).
P.
PURBAYA PERGI. NYAI WIDURI TERDIAM SAMBIL MAMANDANGI KEPERGIAN P.PURBAYA. NYAI
WIDURI MEMANDANGI KERIS SIMANGKLAN IA
MENGELUARKAN KERIS SIMANGKLAN DARI WARANGKANYA LALU MEMASUKANNYA KEMBALI.
Nyai
Widuri : (Bicara sendiri ) Lebih
baik aku menyimpannya. (melangkah kedalam
menyimpan keris itu).
BABAK III
NYAI
WIDURI SEDANG MENYIMPAN KERIS SIMANGKLAN. KI PEDARINGAN PULANG DARI LADANG
DIPUNDAKNYA MEMIKUL CANGKUL LALU DILETAKKAN DI SUDUT DINDING. WAJAHNYA TAMPAK
LELAH SETELAH SETELAH KERJA DILADANG. KI PEDARINGAN MASUK TANPA MENGETUK PINTU,
MENUANG AIR MINUM DARI KENDI NAMUN TIDAK ADA ISINYA. LALU MEMBUKA BAKUL ISI
MAKANAN TIDAK ADA ISINYA. KI PEDARINGAN MEMPERHATIKAN KULIT SEMANGKA DAN GELAS
YANG BARUSAN UNTUK UNTUK MENYUGUH P.PURBAYA.
Ki
Pedaringan : (memanggil Nyai Widuri beberapa kali) Nyai
Widuri....Nyai Widuri....
NYAI
WIDURI MUNCUL DARI DALAM.
Nyai Widuri : Iya....Eh...Aki sudah pulang.
NYAI WIDURI TAMPAK KEBINGUNGAN MELIHAT
SUAMINYA TIDAK MENEMUKAN MAKANAN DAN MINUMAN.
Ki Pedaringan : Iya.
Nyai Widuri : (Terputus-putus,
bimbang) Maaf...Aki, E....e.......
Ki Pedaringan : (Meletakan gelas yang dipegangnya)
ada apa?
Nyai Widuri :Tidak, tidak ada apa-apa.
Ki Pedaringan : (curiga) Kok sepertinya ada
yang disembunyikan.
Nyai Widuri : (Ragu,
serba salah) tidak... tidak apa-apa, tidak ada apa-apa kok.
Ki Pedaringan : (Acuh) Kalau tidak ada apa-apa ya sudah....tolong ambilkan air
minum aku haus.
Nyai Widuri : Maaf Aki, air minumnya habis. Tunggu
sebentar ya....aku akan merebus (melangkah ke tungku hendak merebus
air)
Ki Pedaringan : Tidak
seperti biasanya. Ada apa sebenarnya? Biasanya kamu sudah mempersiapkan segala
sesuatu kalau aku pulang dari ladang. Termasuk makanan dan minuman.
Nyai Widuri : E.....begini Aki, e...saya mau cerita sesuatu,
boleh apa tidak?
Ki Pedaringan : Loh...ya
jelas boleh, kamu kan istriku jadi sudah semestinya bercerita dan tidak perlu
ada yang disembunyikan, ceritakan saja aku akan mendengarkan.
Nyai Widuri : Benar, Aki tidak akan marah?
Ki Pedaringan : Marah?!
Marah kenapa? Sudah cerita saja...
Nyai Widuri : Begini Aki, tadi ada tamu..
Ki Pedaringan : Tamu?
Tamu siapa? Bagaimana orangnya? Apakah dia ada perlu denganku? Sekarang dimana
orangnya?
Nyai Widuri : Eh... dia orang asing, maksudku dia seorang
prajurit. Dia laAki-laAki. Dia tidak ada perlu dengan Aki. Jadi dia langsung
pergi.
Ki Pedaringan : Orang
asing?
Nyai Widuri : (Takut,
khwatir terjadi sesuatu) Maaf Aki... Dia seorang pangeran dan...
Ki Pedaringan : (Memotong) MesAkipun dia seorang
pangeran, tetapi aku suamimu. Aku kepala keluarga dirumah ini. Jadi sudah
semestinya kamu harus meminta ijin kepadaku untuk menerima tamu apalagi laAki-laAki.
Aku harus tahu apa yang terjadi didalam rumah ini.
Nyai Widuri : Tetapi itu tidak mungAkin...
Ki Pedaringan : Tidak
mungkin?
Nyai Widuri : Iya, Aki sedang berada jauh diladang. Dia
terluka parah disekujur tubuhnya karena telah terlibat dalam pertempuran
membasmi para perusuh dan harus segera diobati. Bajunya sampai berlumuran
darah. Aku membuat ramuan untuk mengobati luka-luka seperti yang Aki ajarkan. Sepertinya
berat sekali menjadi prajurit menjalankan tugas negara bahkan dengan cara mempertaruhkan
nyawanya sendiri, dan semua makanan dan minuman sudah aku berikan kedanya untuk
bekal diperjalanan. Semula aku ingin memperkenalkan ia kepada Aki supaya tidak
terjadi salah paham. Tapi ia memaksa pergi karena masih ada tugas penting yang
harus diselesaikan katanya.
Ki Pedaringan :
Ah.....memangnya siapa dia? Lebih penting diakah dibandingkan denganku?
Nyai Widuri : Maaf Aki bukan itu maksudku. Tapi pangeran
itu bernama Pangeran Purbaya.
Ki Pedaringan : Aku tidak
mau tahu siapa pangeran itu.
Nyai Widuri : Aki jangan salah paham. Aku hanya ingin
bercerita.
Aki Pedarigan : Bercerita
dan membanding-bandingkan, Pangeran dan Petani
Nyai Widuri : Bukan...bukan itu maksudku aku hanya...
Ki Pedaringan : (Memotong) Tidak pernah aku sangka,
kecantikanmu menjadikan petaka dirumah ini.
Nyai Widuri : Apa maksud Aki?!
Ki Pedaringan:
Kecantikanmu mengundang seorang pangeran disaat aku sedang tidak ada dirumah.
Capek-capek aku bekerja diladang tapi kamu justru enak-enakan dirumah bersama
laAki-laAki lain. Lihatlah aku sebagai suamimu, mesAkipun usiaku jauh lebih tua
dibandingkan denganmu.
Nyai Widuri : Selama ini aku hidup bahagia denganAki.
Ki Pedaringan : Lantas
apa saja yang ia telah perbuat terhadapmu. Apa yang kalian lakukan selama aku
berada ditengah ladang?
Nyai Widuri : Aki. Aku mohon Aki jangan berburuk sangka,
sekali lagi aku katakan aku hanya mengobati luka-lukanya. Tidak lebih dari itu.
Ki Pedaringan : Aku tidak
percaya.
Nyai Widuri : Lalu aku harus bagaimana? Aku harus
bercerita apa? Apakah aku harus berbohong dan mengarang-ngarang cerita supaya Aki
senang dengan apa yang aku ceritakan?
Ki Pedaringan : Ah....Aku tidak tahu. Tapi aku tahu ada
sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, ada yang kamu rahasiakan. Ada yang kamu
tutup-tutupi. Kamu sudah tidak lagi menghormatiku sebagai suami.
Nyai Widuri : Tidak seperti itu Aki. Sampai saat ini aku
tetap menaruh hormat terhadapmu.
Ki Pedaringan : Omong
kosong.
Nyai Widuri : Sungguh Aki, tidak mungAkin aku berkhianat
terhadapmu.
Ki Pedaringan :
Ah....tidak mungAkin orang bersalah dengan begitu saja mengakui kesalahannya.
Nyai Widuri : Bersalah? Ketika aku melakukan apa yang Aki
ajarkan kepadaku lalu Aki anggap aku bersalah?
Ki Pedaringan : Kamu
sudah pandai bersilat lidah sekarang. Kamu pandai bicara untuk menutupi
kebohonganmu.
Nyai Widuri : Tidak Aki, aku hanya mengatakan apa yang
sebenarnya terjadi.
Ki Pedaringan : (geram) Sekali lagi aku tanyakan. Apa
saja yang sudah kamu lakukan bersama pangeran itu dirumah ini?!
Nyai Widuri : Aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya
terjadi.
Ki Pedaringan : Aku tidak
percaya!
Nyai Widuri : (Kaget tidak percaya dengan apa yg
didengarnya). Aki (Menangis) Baiklah, kalau Aki memang tidak percaya lagi dengan
kata-kataku, ada sebuah saksi yang bisa menunjukan kebenaran tentang apa yang
sebenarnya terjadi selama Aki tidak berada dirumah. (Nyai Widuri mengambil
keris simangklan yang dititipkan P. Purbaya kepadanya, keris itu dilolos dari
warangkanya). Aki, lihatlah sumpahku. Ku torehkan keris simangklan ini
dijariku. Kuteteskan darah dikembang Nyai Widuri putih kesayanganmu. Kalau
kembangnya ternoda oleh darahku, dustalah istrimu. Tapi kalau kembang
kesayanganmu berubah jadi ungu maka masih sucilah hatiku.
KEMBANG NYAI WIDURI PUTIH WARNANYA BERUBAH JADI UNGU
KEBIRUAN YANG CANTIK. KI PEDARINGAN TERHENYAK KAGET. MELANGKAH BEBERAPA LANGKAH
KE BELAKANG.
Ki Pedaringan
: Keajaiban apa ini?! (Gugup)
perkataanmu benar. Tidak salah sediAkitpun. Aku
besalah telah berburuk sangka kepada Pangeran Purbaya. Aku harus menemuinya,
aku harus meminta maaf kepadanya. Akan aku katakan kepadanya, jika kelak aku
mati, aku ingin ia menjagamu.
Nyai Widuri : Tidak Aki. Tidak perlu kamu pergi
menemuinya, ia berjanji akan datang lagi
kemari unuk mengambil keris ini.
Ki Pedaringan : Tidak
mungAkin aku menunggu. Aku harus segera menemuinya untuk meminta maaf darinya.
Jaga dirimu baik-baik dirumah.
Nyai Widuri : Percuma Aki mencari orang di tengah medan
perang.
Ki Pedaringan : Tidak. Aku harus segera
menyusulnya, akan aku katakan kepadanya jika terjadi suatu hal buruk kepadaku,
akan aku minta ia menjagamu.
KI
PEDARINGAN BURU-BURU PERGI MENINGGALKAN NYAI WIDURI. NYAI WIDURI TERMANGU DIAM.
TIBA-TIBA NYAI WIDURI MERASA MUAL. IA MUNTAH-MUNTAH SEPERTI MASUK ANGIN.
SEORANG PEREMPUAN PENDUDUK MASUK KE PANGUNG.
Penduduk : Ada apa Nyai Widuri?
Nyai Widuri : Entahlah...tiba-tiba perutku terasa mual.
MungAkin masuk angin.
Penduduk : Oh....coba duduk. Biar aku pijiti. (Nyai Widuri menuruti kata-katanya, penduduk
itu memijit bagian leher belakang Nyai Widuri, Nyai Widuri masih mual). Bagaimana
sekarang rasanya?
Nyai Widuri : Sudah...mendingan. sudah cukup,
terimakasih. MungAkin aku masuk angin biasa.
Penduduk : MungAkin juga kamu akan segera diberi
momongan.
Nyai Widuri : (Kaget)
Apa? Momongan? Maksudnya aku hamil?
Penduduk :Iya. Biasanya kalau perempuan sedang
berisi perutnya ia terasa mual dan itu yang dinamakan ngidam. Mestinya kamu
merasa senang dan bersyukur karena yang maha kuasa akan menganugerahimu
momongan.
Nyai Widuri : (wajahnya
tampak senang) Duh Gusti.....
Penduduk : Ya itu sudah lumrah. Perempuan yang
sedang mengandung akan merasa bangga karena dapat memberikan keturunan kepada
suaminya. Sekarang yang penting kamu harus banyak istirahat supaya kandunganmu
juga sehat. Oh iya...ngomong-ngomong dimana Ki Pedaringan sekarang?
Nyai Widuri : Ia sedang pergi....
Penduduk : Kemana?
Nyai Widuri : Jauh....
Penduduk :Ealaaah....kalau dia tahu, pastilah ia
akan merasa sangat senang dan bangga. Ngomong-ngomong kemana ia perginya?
Nyai Widuri : (berusaha
menutupi) katanya ada urusan penting.
Penduduk : Oh....
Nyai Widuri : Tolong kalau ada yang ketemu dengannya
sampaikan keadaanku sekarang. Supaya ia cepat pulang.
Penduduk : sebaiknya kamu banyak istirahat, sekarang
aku mau pamit dulu. Nanti akan aku sampaikan kepada suamiku, siapa tahu suamiku
bertemu dengannya.
Nyai Widuri :Iya, terimakasih.
PENDUDUK PERGI. LAMPU
PERLAHAN-LAHAN REDUP.
ADEGAN VI
LAMPU
MENYALA KEMBALI. TUJUH BULAN KEMUDIAN PERUT NYAI WIDURI SUDAH MEMBESAR. NYAI
WIDURI BERDIRI SAMBIL MENGELUS PERUTNYA YANG BUNCIT.
Nyai Widuri : (Bicara sendiri) Sudah tujuh bulan kamu pergi Aki.
Tidak ada kabar baik duka maupun suka darimu. Anakmu dalam kandungan ingin
melihatmu bila kelak lahir dan melihat dunia. Kapan kamu akan pulang Aki? Berat
sekali hidup yang aku jalani saat ini bersama jabang bayi, aku ingin kamu ada
disampingku. Aki, sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu. (memperhatikan keris) Pangeran Purbaya,
sudahkah suamiku menemuimu untuk meminta maaf? Dan kapan engkau akan datang
kemari untuk mengambil keris simangklan yang kau titipkan padaku.
NYAI
WIDURI LELAH LALU IA TERTIDUR DI BALAI BAMBU. DALAM TIDURNYA IA BERMIMPI
PANGERAN PURBAYA MENEMUINYA UNTUK MENGAMBIL KERIS.
ADEGAN V
Nyai Widuri :(
wajahnya berseri-seri) Pangeran.
Akhirnya engkau datang.
P.Purbaya : Iya. Aku menepati janji. Maksud
kedatanganku kesini untuk mengambil keris simangklan yang aku titipkan
kepadamu. Karena aku tahu kamu telah menggunakan keris simangklan sesuai yang
aku amanatkan.
Nyai Widuri : Ampun beribu ampun Pangeran. Keris yang
Pangeran titipkan masih hamba simpan dengan baik. Lama sekali hamba menunggu
kedatangan Pangeran dan rupanya baru saat ini Pangeran datang kembali kesini.
P.Purbaya : Iya, dan itupun aku tidak bisa
berlama-lama berada disini.
Nyai Widuri : Ampun Pangeran. Ini keris yang Pangeran
titipkan kepada hamba, terimaksih telah mempercayakan keris simangklan ini kepada
hamba.
P. Purbaya : Baikah. Aku segera pergi sekarang ada
urusan negara yang harus diselesaikan.
PANGERAN PURBAYA PERGI. NYAI
WIDURI TERBANGUN DARI TIDURNYA.
Nyai Widuri : Duh...gusti. Ternyata aku bermimpi. Apakah arti mimpiku tadi. Apakah Pangeran
Purbaya menginginkan supaya aku mengembalikan kerisnya. (diam sejenak) ah... aku rasa keris ini lebih layak jika berada di
kadipaten dari pada tetap disini. Iya, aku harus bersiap-siap menuju ke
kadipaten.
NYAI
WIDURI BERSIAP-SIAP PERGI MENUJU KE KADIPATEN. PERUTNYA YANG BESAR TIDAK
MENJADI PENGHALANG UNTUK MELANJUTKAN TEKADNYA. NYAI WIDURI PERGI MELANGKAH
SAMBIL MEMBAWA KERIS SIMANGKLAN YANG DIBALUT DENGAN KAIN PUTIH.
ADEGAN VII
DI
KADIPATEN. TAMPAK ADIPATI BESERTA PARA BAWAHAN DAN PENGAWAL MENERIMA KEDATANGAN
NYAI WIDURI. DAPAT DITAYANGKAN DENGAN FILM.
Adipati : Jadi apa maksud kedatanganmu ke
sini?
Nyai Widuri : Ampun kanjeng. Maksud kedatangan hamba
kesini untuk mengembalikan keris milik Pangeran Purbaya yang dititipkan kepada
hamba beberapa bulan yang lalu karena sebuah sebab.
Adipati : Karena sebuah sebab? apa maksudmu
bisakah kamu ceritakan lebih jelas?
Nyai Widuri : Ampun kanjeng, waktu itu Pangeran Purbaya
sedang terluka parah karena beberapa sayatan senjata para pemberontak di pantai
utara dan hamba mengobatinya.
Adipati : Perutmu besar, tampaknya kamu
sedang mengandung. Kenapa kamu datang kesini sendirian? Dimana suamimu?
Nyai Widuri : Ampun Kanjeng. Karena sebab itulah suami
hamba jadi salah paham hingga akhirnya dia merasa benar-benar bersalah kepada
Pangeran Purbaya lalu dia memutuskan untuk pergi menemui Pangeran Purbaya untuk
meminta maaf.
Adipati : Iya, iya....aku mengerti memang
tidak sepatutnya Akita berburuk sangka kepada junjungan. Pangeran Purabaya
adalah orang terpandang dan beliau banyak berjasa untuk negeri ini. (diam sesaat) Coba bawa kemari keris
itu. Aku ingin melihat lebih jelas melihat keris simangklan milik Pangeran
Purbaya.
PENGAWAL
MEMINTA KERIS ITU KEPADA NYAI WIDURI. NYAI WIDURI MEMBERIKANNYA LALU PENGAWAL
MEMBERIKAN KERIS ITU KEPADA KEPADA KANJENG ADIPATI. KANJENG ADIPATI MEMBUKA
BALUTAN KAIN PUTIH YANG MEMBALUT KERIS ITU LALU MENGAMATI GAGANG DAN
WARANGKANYA. IA TERMANGU-MANGU KEMUDIAN MENCABUT KERIS SIMANGKLAN DARI WARANGKANYA IA SEMAAKIN
TAKJUB.
Kanjeng Adipati : (Setelah
mengamati) Iya, Benar. Keris ini memang milik Pangeran Purbaya. (Berdiri)
sebagai wujud rasa terimakasih kadipaten terhadapmu karena telah menjaga keris
simangklan ini maka, mulai sekarang, desa yang kamu tinggali aku jadikan tanah
perdikan, kadipaten tidak akan memungut pajak, semua penduduk disana akan
menghormatimu. Jadilah pengayom dan panutan bagi semua warga.
Nyai Widuri : Terimakasih atas semua perhatian kanjeng
adipati kepada hamba. Sejujurnya atas keputusan kanjeng adipati tersebut sangat
meringankan beban hidup hamba bersama si jabang bayi. Hamba mohon pamit
kanjeng.
Adipati : (Memerintahkan kepada pengawal)
Pengawal. Hantarkan Nyai Nyai Widuri sampai ke desanya. Pastikan ia selamat
sampai ke rumahnya.
Pengawal : Perintah Kanjeng Adipati hamba
laksanakan.
NYAI
WIDURI MEMBERI HORMAT KEPADA KANJENG ADIPATI LALU BERDIRI. DUA PENGAWAL
MENGHANTARKANNYA KELUAR.
ADEGAN
VIII
LAMPU
GELAP. DI RUMAH NYAI WIDURI, TERDENGAR SUARA IA SEDANG BERJUANG MELAHIRKAN
BAYINYA LALU DISUSUL SUARA TANGIS BAYI.
LAMPU
MENYALA. NYAI WIDURI DUDUK SAMBIL MENGGENDONG BAYI.
Nyai Widuri : (Bicara sendiri) Bahkan sampai bayi
ini lahir, kamu belum pulang Aki. Aku berjanji tetap akan menunggumu. Sampai
kapan kamu akan menjadi abdi di Mataram?
LAMPU REDUP.
SELESAI
10 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar