MATA PETANI
Oleh: Ahmad Bukhori
Aku melihat mata para petani berkaca-kaca,
memantulkan sawah yang menjadi rawa,
“kenapa?” tanyaku,
“pemangku kebijakan berpangku tangan.” katanya,
tak ada buaya di rawa,
tapi mulutnya seperti menganga di pintu-pintu lembaga.
Mata petani banjir menjadi rawa,
karena tak ada padi yang bisa dibagi,
air tak mungkin dibagi,
kecuali rob air mata,
tenggelamkan mimpi petani,
Sementara,
Perahu di muara kandas menyentuh tanah,
meski air terus turun dari langit dan gunung.
dan pasang air laut tak surut-surut,
tapi muara dangkal sejengkal.
Meski hujan berhenti menghujam,
para petani dikepung air mata rob,
Pemalang, 7 Maret 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar