Jumat, 07 Maret 2025

Naskah Teater Remaja (Kolosal) Desa Pesilat

 

DESA PESILAT

Karya : Ahmad Bukhori

MUSIK MENUNJUKAN SUASANA DESA.

DI SEBUAH DESA YANG SANGAT SUBUR. RAKYATNYA  HIDUP BERKECUKUPAN. DESA ITU DIPIMPIN OLEH KI LURAH YANG SANGAT BIJAKSANA. DI DESA ITU RAKYATNYA BERPENGHASILAN DARI BERTANI.

PANGGUNG TERANG. PARA WARGA MEMBAWA HASIL PERTANIAN, MEREKA SELESAI MEMANEN HASIL PERTANIAN. PARA WARGA BERNYANYI RIANG GEMBIRA.

Semua warga : Lihatlah desa kami. Desa kami sangat subur dan Makmur. Tidak ada satu pun dari kami yang kekurangan makan.

01.  Warga 1 : Iya, Kami di sini hidup serba berkecukupan..

02.  Warga 2 : Iya kang benar, bulan depan panen akan sangat berlimpah.

03.  Warga 3 : Benar, sepertinya sawah saya saja dapat menghasilkan seratus karung padi.

04.  Warga 4 : Tomat dan sayur mayur, sangat berlimpah.

05.  Warga 5 : Buah-buahan seperti semangka, timun suri juga panen di ladang saya.

06.  Warga 6 : Panen yang akan datang benar-benar panen raya. Semua petani merayakannya.

07.  Warga 7 : Hewan ternak juga sehat semua, tidak ada yang terkena penyakit.

08.  Warga 8 :  Ini  semua berkat Ki Lurah kita yang pandai dan adil dalam memimpin desa kita ini.

TIBA-TIBA KI LURAH DATANG

09.  Ki Lurah  : (Berdehem) EHm.. ehm…Ada ap aini? Kok nama saya dibawa-bawa.

10.  Warga 1 : Ini Ki lurah musim panen yang akan tiba benar-benar melimpah. Hasil panennya diluar dugaan, tidak seperti biasanya.

11.  Ki Lurah : Oh…Semua ini berkat kegigihan semua warga dalam bertani, kalau saya kan hanya kepala desa yang tugasnya mengkoordinasi bawahan saya.

SEMUA WARGA MENGANGGUK SETUJU.

12.  Ki Lurah : Nah untuk menunjukan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian kali ini alangkah baiknya kalau kita melakukan sedekah bumi. Kita adakan doa Bersama yang nanti akan dipimpim oleh sesepuh desa.

13.  Warga 3 : Setuju ki Lurah, dan jangan lupa nanggap wayang kulit kita  undang dalang kondang dari luar desa.

14.  Warga 4 : Dan juga kethoprak pak Lurah.

15.  Ki Lurah : Iya..iya….saya setuju.

MUSIK MENCEKAM. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA MINTA TOLONG DARI KEJAUHAN. MAKIN LAMA MAKIN DEKAT.

16.  Suara : Tolong…tolong…tolong….

17.  Ki Lurah :  Ada apa  itu, kok sepertinya ada yang minta tolong.

18.  Suara : Tolong…tolong….

19.  Warga 5 : Sepertinya saya mengenal suara itu Ki.

20.  Ki Lurah : Iya sepertinya itu suara Mukidi. Waduh ada apa ini?

MUKIDI MASUK.

21.  Mukidi : (Ngos-ngosan) Tolong….tolong…tolong saya Ki Lurah

22.  Ki Lurah : Ada apa ini, kok sampeyan seperti dikejar-kejar setan seperti itu.

23.  Mukidi : Anu ki….anu..

24.  Ki Lurah : Anu..anu… anu apa?

25.  Mukidi : Anu…

26.  Warga 6 : Anu apa? Anunya siapa?

27.  Mukidi : Anu kawanan perampok sedang menuju ke sini ki.

28.  Semua : Perampok?

29.  Mukidi : Iya perampok. Mereka habis merampok desa sebelah. Rumah-rumah dibakar karena warga di desa sebelah melawan ki.

30.  Ki Lurah : Waduh….celaka ini.

SEMUA WARGA PANIK.

31.  kI Lurah : Tenang-tenang. Semua warga jangan panik. Semuanya tenang. Biar nanti saya yang hadapi.

32.  Mukidi : Tapi Ki, para perampok itu sangat bengis, mereka akan melakukan apa saja kalau permintaan mereka tidak dipenuhi.

33.  Ki Lurah : Iya..iya saya mengerti. (Berpikir keras) Sebaiknya kalian pulang ke rumah masing-masing, jaga dan lindungi anak istri kalian.

34.  Warga 7 : Tapi Ki Lurah….

35.  Ki Lurah : Sudah jangan ngeyel…sana pulang ke rumah masing-masing biar saya yang hadapi para perampok itu.

MUSIK HENING LAMA KELAMAAN MENJADI MENCEKAM. PARA WARGA PULANG KE RUMAH MASING-MASING. KI LURAH TAMPAK BERPIKIR KERAS. TIBA-TIBA GEROMBOLAN PERAMPOK DATANG.

36.  Ketua Perampok : (berteriak) Siapa lurah di desa ini?

37.  Ki Lurah : (Tenang) Saya lurah di desa ini. Ada apa tuan?

38.  Ketua Perampok : DI mana para penduduk desa? Kenapa des aini sepi?

39.  Ki Lurah : Ehmm…anu tuan para penduduk sedang di sawah dan ladang.

40.  Ketua Perampok : Tidak mungkin semua ke sawah.

LALU KETUA PERAMPOK MEMERINTAHKAN KEPADA PARA ANAK BUAHNYA.

41.  Ketua Perampok : Anak buahku semuanya. Kumpulkan semua penduduk desa di sini. Ambil semua harta benda dari penduduk.

42.  Para perampok : Baik ketua…

KI LURAH HENDAK MENGHALANGI TAPI JUSTRU DITENDANG.

43.  Ki Lurah : Tunggu…tunggu bisa kita selesaikan baik-baik.

44.  Perampok 1 : Minggir kamu.

KI LURAH JATUH LALU TANGANNYA DIIKAT OLEH SALAH SATU PERAMPOK. TERDENGAR SUARA PENDUDUK MINTA TOLONG. PARA PERAMPOK MENGGELEDAH RUMAH-RUMAH PENDUDUK.

45.  Suara Para penduduk : Tolong…ampun tuan ampun.

46.  Ki Lurah : Jangan apa-apakan penduduk. Apa yang kalian mau?

47.  Perampok 2 : Diam kamu. Kumpulkan semua hasil bumi dan ternak.

48.  Warga 3 : Di Desa iini belum waktunya panen, bagaimana kami akan mengumpulkannya?

49.  Perampok 3 : Jangan bohong.

50.  Wraga 4. Betul kami tidak bohong.

51.  Perampok 4 : Bohong. Selama perjalanan kami melihat hasil panen des aini bagus semua.

52.  Warga 5 : Tidak, desa kami gagal panen tuan. Saya menanam pare lima hektar hasilnya pahit semua.

53.  Perampok 5 : (marah) Jangan main-main kamu.  ki Lurah ikut dengan kami sebagai jaminan, purnama yang akan dating kami akan dating lagi untuk membawa permintaan kami.

KEPADA ANAK BUAHNYA YANG BERJUMLAH KURANG LEBIH LIMA ORANG.

54.  Ketua Perampok : Ayo…kita pergi dari sini. (Kepada Penduduk) Dengarkan semua penduduk desa. Kami akan datang lagi ke desa ini sebagai jaminannya lurah kalian kami jadikan sandera. (kepada anak buahnya) Ayo kita pergi!

PARA PENDUDUK BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL-MANGGIL NAMA KI LURAH.

55.  Para penduduk : Ki Lurah…ki lurah……

PARA PERAMPOK PERGI. KI LURAH DIBAWA PAKSA DENGAN TANGAN TERIKAT.

MUSIK SEPI. TAK LAMA KEMUDIAN SEORANG PENDEKAR DATANG, SUASANA DESA SEPI.

56.  Pendekar : (beristirahat) Oh…desa apa ini, kok tampaknya tidak seperti biasanya, tidak seperti desa yang lainnya. Di mana para penduduk lainnya.

DUA ORANG PENDUDUK LEWAT.

57.  Pendekar : (memanggil) Pak dimana warga yang lain, kenapa tidak ada kedai makanan yang buka?

58.  Warga 1 : (Ketakutan) Tuan ini siapa? Apakah tuan ini salah satu anggota perampok tadi?

59.  Pendekar : (Terkejut) Perampok? Bukan, saya hanya pengembara. Oh ya…apakah des aini telah dirampok?

60.  Warga 2 : Iya benar tuan, bahkan lurah kami pun disandera, dibawa bersama para perampok. Para perampok itu mengancam purnama yang akan datang, akan datang lagi agar kami memberikan yang mereka minta.

61.  Pendekar : (Mengangguk) Kalau begitu kenapa tidak melawan saja?

62.  Warga 1 : Melawan? Bagaimana kami akan melawan, kami tidak bisa berkelahi, kami hanya kaum petani dan kami juga tidak memiliki senjata seperti tuan ini.

63.  Pendekar : Oh begitu. Jika tidak keberatan kumpulkan semua warga kita akan berlatih ilmu silat.

64.  Warga 2 : Baik tuan.

WARGA 1 dan 2 MENGUMPULKAN WARGA DESA DENGAN BUNYI KENTONGAN.

65.  Warga 1 : Pengumuman-pengumuman. Kepada semua warga untuk untuk berkumpul.

 SEMUA WARGA BERKUMPUL.

66.  Warga 3 :  Ada apa lagi ini kang? Apa gerombolan perampok itu datang lagi? (melihat kea rah pendekar) Orang ini siapa kang?

67.  Warga 1 : Tidak. Beliau ini seorang pengembara, beliau ini berjanji akan mengajarkan kepada kita semua bagaimana caranya melawan para perampok.

68.  Warga 3 : Oh Begitu.

69.  Warga 2 : Iyaa benar (kepada pendekar) Silahkan tuan, semua warga sudah berkumpul. Waktu dan tempat saya persilahkan.

PENDEKAR BERBICARA KEPADA SEMUA WARGA DESA SEBELUM MEMULAI LATIHAN SILAT.

70.  Pendekar : Assalamulaikum warahmatullah hi wabarokatuh.

71.  Semua warga : Waalaikumsalam Wr.Wb.

72.  Pendekar : Bapak-bapak semua warga desa yang saya hormati. Saya mendengar kabar bahwa desa ini telah didatangi gerombolan perampok. Oleh karena itu kita semua harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kedatangan para perampok itu. Baiklah langsung saja kita mulai latihan silat. Semuanya berbaris.

PARA PENDUDUK MENURUTI INSTRUKSI DARI PENDEKAR. WARGA BERLATIH SILAT ATAS ARAHAN PENDEKAR. TAK LAMA KEMUDIAN LATIHAN SILAT SELESAI.

73.  Pendekar : Latihan saya kira sudah cukup. Kepada semua warga untuk selalu siap memberikan perlawanan apabila sewaktu-waktu gerombolan perampok itu datang.

74.  Semua warga : Siap pendekar.

PANGGUNG KOSONG. MUSIIK SUNYI. TIBA-TIBA GEROMBOLAN PERAMPOK DATANG SAMBIL BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL-MANGGIL WARGA SAMBIL MENGANCAM.

75.  Ketua Perampok : Dimana para penduduk. Hei dimana kalian semua. Sekarang sudah waktunya kalian menyerahkan hasil pertanian. Kalau tidak maka lurah kalian akan mati.

TIBA-TIBA SEMUA WARGA DATANG DI PIMPIN OLEH PENDEKAR.

76.  Pendekar : (Kepada ketua rampok) Lepaskan Ki Lurah.

77.  Ketua perampok : Hei siapa kamu? Sepertinya kamu bukan warga desa sini.

78.  Pendekar : Siapapun saya tidak penting. Tapi yang jelas kalian sudah melakukan kesalahan karena merampok warga desa.

79.  Ketua perampok : Ah…kamu ikut campur saja. (kepada anak buahnya) Ayo…hancurkan des aini…bakar semua rumah.

MUSIK MENCEKAM SUASANA PERANG. PARA PERAMPOK MENGAMUK, NAMUN WARGA MEMBERIKAN PERLAWANAN. PERKELAHIAN TERJADI SERU. GEROMBOLAN PERAMPOK KALAH, KI LURAH BERHASIL DIBEBASKAN, TINGGAL KETUA PERAMPOK DAN PENDEKAR BERDUEL. PERKELAHIAN DIMENANGKAN PENDEKAR. TANGAN KETUA PERAMPOK DIKUNCI PENDEKAR SEHINGGA TIDAK BISA BERGERAK.

80.  Pendekar : Bagaimana? Menyerah atau tidak?

KETUA PERAMPOK MENAHAN SAKIT.

81.  Ketua perampok : (Kesakitan) Iya..iya….saya berjanji tidak akan berbuat jahat lagi.  Saya berjanji tidak akan merampok lagi.

82.  Pendekar : Kamu berjanji???

83.  Ketua perampok : (kesakitan) Iya….tolong….tolong ….jangan patahkan tangan saya. Saya berjanji tidak akan merampok lagi, saya akan menjadi warga biasa.

GEROMBOLAN PERAMPOK MENYERAH. WARGA DESA MERAYAKAN KEMENANGANNYA.

84.  Semua Warga : (bersorak) Hore…hore…hore…. Kita menang…hore kita menang.

85.  Ki Lurah : Terimakasih tuan pendekar…terimakasih telah mengajarkan ilmu silat kepada warga…terimakasih.

86.  Pendekar : Sama-sama ki lurah. Sesungguhnya didalam kekuatan yang besar, memikul tanggung jawab yang besar juga.

87.  Semua Warga : Hidup pedekar…hidup pendekar….

PARA WARGA DESA MERAYAKAN KEMENENGAN BERSORAK SORAI.

SELESAI.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar