DESA PESILAT
Karya : Ahmad Bukhori
MUSIK MENUNJUKAN SUASANA DESA.
DI SEBUAH DESA YANG SANGAT
SUBUR. RAKYATNYA HIDUP BERKECUKUPAN.
DESA ITU DIPIMPIN OLEH KI LURAH YANG SANGAT BIJAKSANA. DI DESA ITU RAKYATNYA
BERPENGHASILAN DARI BERTANI.
PANGGUNG TERANG. PARA
WARGA MEMBAWA HASIL PERTANIAN, MEREKA SELESAI MEMANEN HASIL PERTANIAN. PARA
WARGA BERNYANYI RIANG GEMBIRA.
Semua warga : Lihatlah
desa kami. Desa kami sangat subur dan Makmur. Tidak ada satu pun dari kami yang
kekurangan makan.
01. Warga 1 : Iya, Kami di sini
hidup serba berkecukupan..
02. Warga 2 : Iya kang benar, bulan
depan panen akan sangat berlimpah.
03. Warga 3 : Benar, sepertinya
sawah saya saja dapat menghasilkan seratus karung padi.
04. Warga 4 : Tomat dan sayur
mayur, sangat berlimpah.
05. Warga 5 : Buah-buahan seperti
semangka, timun suri juga panen di ladang saya.
06. Warga 6 : Panen yang akan
datang benar-benar panen raya. Semua petani merayakannya.
07. Warga 7 : Hewan ternak
juga sehat semua, tidak ada yang terkena penyakit.
08. Warga 8 : Ini
semua berkat Ki Lurah kita yang pandai dan adil dalam memimpin desa kita
ini.
TIBA-TIBA KI LURAH DATANG
09. Ki Lurah : (Berdehem) EHm.. ehm…Ada ap aini? Kok nama
saya dibawa-bawa.
10. Warga 1 : Ini Ki lurah
musim panen yang akan tiba benar-benar melimpah. Hasil panennya diluar dugaan,
tidak seperti biasanya.
11. Ki Lurah : Oh…Semua ini
berkat kegigihan semua warga dalam bertani, kalau saya kan hanya kepala desa
yang tugasnya mengkoordinasi bawahan saya.
SEMUA WARGA MENGANGGUK
SETUJU.
12. Ki Lurah : Nah untuk
menunjukan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian kali
ini alangkah baiknya kalau kita melakukan sedekah bumi. Kita adakan doa Bersama
yang nanti akan dipimpim oleh sesepuh desa.
13. Warga 3 : Setuju ki Lurah,
dan jangan lupa nanggap wayang kulit kita
undang dalang kondang dari luar desa.
14. Warga 4 : Dan juga
kethoprak pak Lurah.
15. Ki Lurah : Iya..iya….saya
setuju.
MUSIK MENCEKAM. TIBA-TIBA
TERDENGAR SUARA MINTA TOLONG DARI KEJAUHAN. MAKIN LAMA MAKIN DEKAT.
16. Suara : Tolong…tolong…tolong….
17. Ki Lurah : Ada apa
itu, kok sepertinya ada yang minta tolong.
18. Suara : Tolong…tolong….
19. Warga 5 : Sepertinya saya
mengenal suara itu Ki.
20. Ki Lurah : Iya sepertinya
itu suara Mukidi. Waduh ada apa ini?
MUKIDI MASUK.
21. Mukidi : (Ngos-ngosan)
Tolong….tolong…tolong saya Ki Lurah
22. Ki Lurah : Ada apa ini,
kok sampeyan seperti dikejar-kejar setan seperti itu.
23. Mukidi : Anu ki….anu..
24. Ki Lurah : Anu..anu… anu
apa?
25. Mukidi : Anu…
26. Warga 6 : Anu apa? Anunya
siapa?
27. Mukidi : Anu kawanan
perampok sedang menuju ke sini ki.
28. Semua : Perampok?
29. Mukidi : Iya perampok.
Mereka habis merampok desa sebelah. Rumah-rumah dibakar karena warga di desa
sebelah melawan ki.
30. Ki Lurah : Waduh….celaka
ini.
SEMUA WARGA PANIK.
31. kI Lurah : Tenang-tenang.
Semua warga jangan panik. Semuanya tenang. Biar nanti saya yang hadapi.
32. Mukidi : Tapi Ki, para
perampok itu sangat bengis, mereka akan melakukan apa saja kalau permintaan
mereka tidak dipenuhi.
33. Ki Lurah : Iya..iya saya
mengerti. (Berpikir keras) Sebaiknya kalian pulang ke rumah masing-masing, jaga
dan lindungi anak istri kalian.
34. Warga 7 : Tapi Ki Lurah….
35. Ki Lurah : Sudah jangan
ngeyel…sana pulang ke rumah masing-masing biar saya yang hadapi para perampok
itu.
MUSIK HENING LAMA KELAMAAN
MENJADI MENCEKAM. PARA WARGA PULANG KE RUMAH MASING-MASING. KI LURAH TAMPAK
BERPIKIR KERAS. TIBA-TIBA GEROMBOLAN PERAMPOK DATANG.
36. Ketua Perampok : (berteriak)
Siapa lurah di desa ini?
37. Ki Lurah : (Tenang) Saya
lurah di desa ini. Ada apa tuan?
38. Ketua Perampok : DI mana
para penduduk desa? Kenapa des aini sepi?
39. Ki Lurah : Ehmm…anu tuan
para penduduk sedang di sawah dan ladang.
40. Ketua Perampok : Tidak
mungkin semua ke sawah.
LALU KETUA PERAMPOK
MEMERINTAHKAN KEPADA PARA ANAK BUAHNYA.
41. Ketua Perampok : Anak
buahku semuanya. Kumpulkan semua penduduk desa di sini. Ambil semua harta benda
dari penduduk.
42. Para perampok : Baik
ketua…
KI LURAH HENDAK
MENGHALANGI TAPI JUSTRU DITENDANG.
43. Ki Lurah : Tunggu…tunggu
bisa kita selesaikan baik-baik.
44. Perampok 1 : Minggir kamu.
KI LURAH JATUH LALU
TANGANNYA DIIKAT OLEH SALAH SATU PERAMPOK. TERDENGAR SUARA PENDUDUK MINTA
TOLONG. PARA PERAMPOK MENGGELEDAH RUMAH-RUMAH PENDUDUK.
45. Suara Para penduduk :
Tolong…ampun tuan ampun.
46. Ki Lurah : Jangan apa-apakan
penduduk. Apa yang kalian mau?
47. Perampok 2 : Diam kamu.
Kumpulkan semua hasil bumi dan ternak.
48. Warga 3 : Di Desa iini
belum waktunya panen, bagaimana kami akan mengumpulkannya?
49. Perampok 3 : Jangan
bohong.
50. Wraga 4. Betul kami tidak
bohong.
51. Perampok 4 : Bohong. Selama
perjalanan kami melihat hasil panen des aini bagus semua.
52. Warga 5 : Tidak, desa kami
gagal panen tuan. Saya menanam pare lima hektar hasilnya pahit semua.
53. Perampok 5 : (marah)
Jangan main-main kamu. ki Lurah ikut
dengan kami sebagai jaminan, purnama yang akan dating kami akan dating lagi
untuk membawa permintaan kami.
KEPADA ANAK BUAHNYA YANG
BERJUMLAH KURANG LEBIH LIMA ORANG.
54. Ketua Perampok : Ayo…kita
pergi dari sini. (Kepada Penduduk) Dengarkan semua penduduk desa. Kami akan
datang lagi ke desa ini sebagai jaminannya lurah kalian kami jadikan sandera.
(kepada anak buahnya) Ayo kita pergi!
PARA PENDUDUK
BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL-MANGGIL NAMA KI LURAH.
55. Para penduduk : Ki
Lurah…ki lurah……
PARA PERAMPOK PERGI. KI
LURAH DIBAWA PAKSA DENGAN TANGAN TERIKAT.
MUSIK SEPI. TAK LAMA
KEMUDIAN SEORANG PENDEKAR DATANG, SUASANA DESA SEPI.
56. Pendekar : (beristirahat)
Oh…desa apa ini, kok tampaknya tidak seperti biasanya, tidak seperti desa yang
lainnya. Di mana para penduduk lainnya.
DUA ORANG PENDUDUK LEWAT.
57. Pendekar : (memanggil) Pak
dimana warga yang lain, kenapa tidak ada kedai makanan yang buka?
58. Warga 1 : (Ketakutan) Tuan
ini siapa? Apakah tuan ini salah satu anggota perampok tadi?
59. Pendekar : (Terkejut)
Perampok? Bukan, saya hanya pengembara. Oh ya…apakah des aini telah dirampok?
60. Warga 2 : Iya benar tuan,
bahkan lurah kami pun disandera, dibawa bersama para perampok. Para perampok
itu mengancam purnama yang akan datang, akan datang lagi agar kami memberikan
yang mereka minta.
61. Pendekar : (Mengangguk)
Kalau begitu kenapa tidak melawan saja?
62. Warga 1 : Melawan?
Bagaimana kami akan melawan, kami tidak bisa berkelahi, kami hanya kaum petani
dan kami juga tidak memiliki senjata seperti tuan ini.
63. Pendekar : Oh begitu. Jika
tidak keberatan kumpulkan semua warga kita akan berlatih ilmu silat.
64. Warga 2 : Baik tuan.
WARGA 1 dan 2 MENGUMPULKAN
WARGA DESA DENGAN BUNYI KENTONGAN.
65. Warga 1 :
Pengumuman-pengumuman. Kepada semua warga untuk untuk berkumpul.
SEMUA WARGA BERKUMPUL.
66. Warga 3 : Ada apa lagi ini kang? Apa gerombolan
perampok itu datang lagi? (melihat kea rah pendekar) Orang ini siapa kang?
67. Warga 1 : Tidak. Beliau
ini seorang pengembara, beliau ini berjanji akan mengajarkan kepada kita semua
bagaimana caranya melawan para perampok.
68. Warga 3 : Oh Begitu.
69. Warga 2 : Iyaa benar
(kepada pendekar) Silahkan tuan, semua warga sudah berkumpul. Waktu dan tempat
saya persilahkan.
PENDEKAR BERBICARA KEPADA
SEMUA WARGA DESA SEBELUM MEMULAI LATIHAN SILAT.
70. Pendekar : Assalamulaikum
warahmatullah hi wabarokatuh.
71. Semua warga :
Waalaikumsalam Wr.Wb.
72. Pendekar : Bapak-bapak
semua warga desa yang saya hormati. Saya mendengar kabar bahwa desa ini telah
didatangi gerombolan perampok. Oleh karena itu kita semua harus mempersiapkan
diri untuk menghadapi kedatangan para perampok itu. Baiklah langsung saja kita
mulai latihan silat. Semuanya berbaris.
PARA PENDUDUK MENURUTI
INSTRUKSI DARI PENDEKAR. WARGA BERLATIH SILAT ATAS ARAHAN PENDEKAR. TAK LAMA
KEMUDIAN LATIHAN SILAT SELESAI.
73. Pendekar : Latihan saya
kira sudah cukup. Kepada semua warga untuk selalu siap memberikan perlawanan
apabila sewaktu-waktu gerombolan perampok itu datang.
74. Semua warga : Siap
pendekar.
PANGGUNG KOSONG. MUSIIK
SUNYI. TIBA-TIBA GEROMBOLAN PERAMPOK DATANG SAMBIL BERTERIAK-TERIAK
MEMANGGIL-MANGGIL WARGA SAMBIL MENGANCAM.
75. Ketua Perampok : Dimana
para penduduk. Hei dimana kalian semua. Sekarang sudah waktunya kalian
menyerahkan hasil pertanian. Kalau tidak maka lurah kalian akan mati.
TIBA-TIBA SEMUA WARGA
DATANG DI PIMPIN OLEH PENDEKAR.
76. Pendekar : (Kepada ketua
rampok) Lepaskan Ki Lurah.
77. Ketua perampok : Hei siapa
kamu? Sepertinya kamu bukan warga desa sini.
78. Pendekar : Siapapun saya
tidak penting. Tapi yang jelas kalian sudah melakukan kesalahan karena merampok
warga desa.
79. Ketua perampok : Ah…kamu
ikut campur saja. (kepada anak buahnya) Ayo…hancurkan des aini…bakar semua
rumah.
MUSIK MENCEKAM SUASANA
PERANG. PARA PERAMPOK MENGAMUK, NAMUN WARGA MEMBERIKAN PERLAWANAN. PERKELAHIAN
TERJADI SERU. GEROMBOLAN PERAMPOK KALAH, KI LURAH BERHASIL DIBEBASKAN, TINGGAL
KETUA PERAMPOK DAN PENDEKAR BERDUEL. PERKELAHIAN DIMENANGKAN PENDEKAR. TANGAN
KETUA PERAMPOK DIKUNCI PENDEKAR SEHINGGA TIDAK BISA BERGERAK.
80. Pendekar : Bagaimana?
Menyerah atau tidak?
KETUA PERAMPOK MENAHAN
SAKIT.
81. Ketua perampok :
(Kesakitan) Iya..iya….saya berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Saya berjanji tidak akan merampok lagi.
82. Pendekar : Kamu
berjanji???
83. Ketua perampok :
(kesakitan) Iya….tolong….tolong ….jangan patahkan tangan saya. Saya berjanji
tidak akan merampok lagi, saya akan menjadi warga biasa.
GEROMBOLAN PERAMPOK MENYERAH.
WARGA DESA MERAYAKAN KEMENANGANNYA.
84. Semua Warga : (bersorak)
Hore…hore…hore…. Kita menang…hore kita menang.
85. Ki Lurah : Terimakasih
tuan pendekar…terimakasih telah mengajarkan ilmu silat kepada
warga…terimakasih.
86. Pendekar : Sama-sama ki
lurah. Sesungguhnya didalam kekuatan yang besar, memikul tanggung jawab yang
besar juga.
87. Semua Warga : Hidup
pedekar…hidup pendekar….
PARA WARGA DESA MERAYAKAN
KEMENENGAN BERSORAK SORAI.
SELESAI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar